Head Over Heels in Love – Chapter 1

Head Over Heels in Love Cover

Title                : Kitten

Genre              : Totally Modern!AU. Fantasy (?)

Rating             : T for this chapter

Length            : Chaptered-Ficlet with 901 words

Author            : leenahanwoo

Pairing            : Eren x Levi

Cast                   : Eren Jeager, 3 or 4-Month Age Cat!Levi. Others may appear as the chapters being updated.

Warning         : This part has no romance, and no certain genre to be explained ! Don’t like don’t read !! I accept any criticism, but please say it in a good manner !!!

Disclaimer      : All Shingeki no Kyojin casts belong to Isayama Hajime without any excuse … This story and OC (maybe) are my Levi-sama’s and mine.

 

Eren Jeager berjalan cepat melalui jalanan kota yang beku. Dia tampak menggigil, merapatkan jaket lalu meniup-niup tangannya yang kebas. Pulang dari kerja paruh waktu yang upahnya tak seberapa, namun perjuangan untuk kembali ke apartemennya yang hangat jauh lebih berat dari sekedar mengumpulkan tambahan uang saku.

“Dinginnya.” Dia mendesah sedih. Seharusnya ia membawa sarung tangan tebalnya sebelum berangkat kuliah. Tapi lihatlah bagaimana keteledorannya membawa petaka buat jari-jarinya yang mulai mati rasa.

Di saat itulah, telinganya mendengar sebuah suara sayup-sayup dari salah satu lorong yang kadang kala menjadi jalan pintas untuk ke blok perumahan seberang. Lorong itu sepi, gelap tanpa pencahayaan cukup, dingin mencekam dengan suara desahan angin. Namun yang jadi perhatiannya hanyalah suara kitten yang menangis di tengah pekatnya malam.

Eren melangkah maju, menepis rasa takut dan mendekat sumber suara. Seekor kucing berwarna hitam pekat – yang entah bagaimana Eren bisa melihatnya dengan jelas walau dalam keadaan setengah gulita –, dengan mata kecil kelabu, mencekam namun menimbulkan iba. Kucing kecil itu setengah meraung, entah lapar atau mencari ibunya. Atau kedua-duanya. Dan satu-satunya yang Eren pikirkan adalah kucing ini akan mati kedinginan di malam dengan suhu di bawah nol derajat ini, sekuat apapun ia.

Kucing itu bersiaga saat Eren mendekatinya. Menjaga jarak dan menajamkan cakar, dengan mata sengit mengancam.

“Ayo, pulang bersamaku.” Eren mengulurkan tangan ingin mengambil sang kucing hitam. Dan yang ia dapat adalah cakaran tajam dan raungan kasar.

Ah, memang pada dasarnya Eren dijuluki suicidal bastard, dan tak peduli dengan luka cakaran di tangannya. Dengan cepat ia menarik kucing kecil itu dan memeluknya erat. Kucing itu berontak, kembali mencakarnya di dada dan mungkin bahu, namun tak ia pedulikan. Dengan cepat ia berdiri dan kembali berjalan cepat menuju apartemennya yang hanya tinggal seperempat jalan lagi.

……………

“Ah, kita sampai.”

Eren melepaskan sang kucing dari pelukan saat ia telah meyakinkan diri bahwa penghangat ruangan telah dihidupkan dan pintu dikunci dengan benar. Sementara kucing kecil hitam itu sudah beringsut di sudut ruangan yang hampir tersembunyi oleh sofa ruang tamu.

Eren yang sudah melepas jaket dan sepatu, kembali mendekati sang kucing tanpa takut. Malah tersenyum saat kucing itu melihatnya dengan tatapan sengit yang sama. Dia berjongkok pelan, agar kucing itu tak perlu merasa ketakutan dengan kekuatannya.

“Kau lapar? Rasanya aku masih punya sarden kalengan di dapur.” Eren mengelus pelan kepala kucing itu. Kali ini tidak ada cakaran sebagai reaksi.

“Uung?” Dia menatap Eren dengan heran. Sedikitnya pemuda itu bisa menebak apa yang ada di pikiran kucing yang tengah ia elus ini.

“Tunggu sebentar, oke?”

Eren beranjak dan berjalan ke arah dapur. Mulai memanaskan sarden kaleng yang memang ia simpan sebagai makanan cadangan, dipanaskan ke dalam microwave sampai ke suhu yang tidak terlalu tinggi. Lidah kucing eh? Sementara kucing hitam itu tetap menunggu di sudut ruangan. Enggan mendekat.

Pemuda beriris zamrud itu menyiapkan sebuah piring ukuran sedang untuk menyajikan ikan yang ia hangatkan, serta sebuah mangkuk kecil berisi air. Dibawanya mendekat ke tempat kucing hitam yang sedang duduk diam memperhatikan sekeliling.

“Nah, makanlah.” Eren meletakkan piring berisi ikan dan mangkuk berisi air ke hadapan sang kucing.

Kucing itu mengendusi sardennya, seakan-akan memeriksa apakah makanan ini aman dikonsumsi, ataukah bisa membuatnya kejang-kejang. Merasa bahwa ikannya tak bermasalah, ia memakannya dengan lahap. Eren tersenyum.

Sembari menunggu, Eren menuju kamar mandi. Menyiapkan air yang tidak terlalu hangat di bak mandi. Memandikan kucing hitam itu seharusnya tidak sulit. Dan dia harus cukup bersih sebelum dibawa tidur.

Kembali lagi ke tempat sang kucing yang telah selesai melahap makanan dan minumnya. Eren membawa kucing itu ke dalam dekapan, membawanya ke kamar mandi. Sedikit bingung, namun kembali berontak saat Eren menutup pintu kamar mandi. Ah, semua kucing memang tidak suka air, pikir Eren.

Waktu mandi yang seharusnya tak sampai lima menit, berubah menjadi sepuluh menit lebih. Beberapa hasil karya sang kucing terpahat di badan dan lengan Eren, dan air yang sudah tumpah ruah dari bak mandi. Tapi Eren tetap tersenyum senang, karena ia berhasil memandikan kucing itu hingga betul-betul bersih.

Handuk lama yang tidak terpakai Eren jadikan pengganti kain temporer untuk mengeringkan badan sang kucing yang setengah menggigil. Bahkan dalam dekapan handuk, kucing itu masih sesekali berontak dan ingin kabur. Tapi bukan Eren namanya jika cepat menyerah. Apalagi kalau hanya sekedar memandikan kucing kecil.

Setelah bulu kucing itu sudah cukup kering, ia biarkan kucing itu masuk ke kamarnya. Meringkuk di atas tempat tidurnya sambil menjilati diri sendiri. Grooming. Dalam kepala Eren, mulai berpikir untuk menyiapkan segala keperluan untuk kucing barunya. Tempat tidur, litter box, shampoo khusus kucing, dan mungkin juga mangkuk yang layak untuk makan dan minum.

Eren menaiki tempat tidur saat kucing itu telah selesai dengan ritual grooming-nya. Kembali mendekapnya hangat, dan tanpa perlawanan.

“Aku tinggal sendirian disini.” Retoris. “Aku harap kau bersedia tinggal disini bersamaku. Menemani hari-hariku. Aku akan berusaha menjaga dan mengurusmu dengan baik.” Sembari mengelus-elus kepala hingga punggung sang kucing hitam. Kucing itu mengeong pelan sebagai tanggapan, atau jawaban iya yang lemah.

“Karena kau sudah menjadi bagian dari rumah ini, kau harus punya nama. Supaya aku bisa memanggilmu dengan benar.” Kucing itu mendongak. “Apa nama yang bagus untukmu? Aku ingin memberimu nama yang sesuai untukmu.”

Eren berpikir-pikir sembari mengamati sang kucing dengan lekat. Kucing hitam ini tampak jauh lebih hidup dibandingkan saat ia menemukannya di jalanan. Matanya tegas, dan menghipnotis siapapun yang memandangnya. Bulunya hitam sekelam malam, dan sangat halus bila dipegang. Yang jelas, ia merasakan sebuah hasrat juang yang besar saat memandangi kucing hitam dalam dekapannya ini.

“Levi.” Eren memutuskan. “Kau adalah Levi. Mulai saat ini dan seterusnya. Levi-ku.”

TBC

Note: Levi’s romanized name means revival.

Author’s Note:

My first fic for this fandom is finally appeared ^^ YEAY!!

Today is my first fanfiction debut in SnK fandom, and the 465th day anniversary of my wife and I …

I’ve promised to her that I will give her something on this day, and this is the gift I have been prepared for a whole day. Only a ficlet of Eren x Levi, but this story is based on our current roleplaying scene ^^

I’m EreRivaEre stand, and I don’t mind to read and write EreRi or RivaEre story. But yes, I make my first fic in Eren x Levi pairing, and I don’t hope for some fight or anything with all fans in this fandom, so please accept this story well. I can accept all criticism, but I can’t stand for any flame for the story and/or the pairing. If the readers feel no good for Eren x Levi pairing, you may click the close button and leave, since I don’t want to start any war with anybody.

Anyway, this fic is Eren x Cat!Levi story. This concept … I still don’t have clear explanation in mind about the cat itself. In our roleplay world, Cat!Levi is a cat when he is a kitten (0-month to 8-month age of cat), and grow to be a human-cat (human body with cat’s tail & ears) when he’s is in teenage age (8-month and so on). That’s why I choose the fantasy genre, since this condition is impossible in real life. Maybe you can consider Cat!Levi as mutan, werecat or anything like that. The certain thing is Eren accept any changes of Cat!Levi very well ^^

Anyway, would you mind to give any review here?

Picture credit to @ choratri

A Bouquet of Daffodil – Chapter 4

Chapter 4 - Rceonciliation

Title                : [A Bouquet of Daffodil] Chapter 4 – Reconciliation
Genre              : Shounen-ai, friendship, romance
Rating             : T
Length            : Chaptered with 3.689 words
Author            : leenahanwoo
Cast                  : Eunhyuk, Donghae, Kyuhyun, Leeteuk, Hangeng, Heechul, Kibum, Henry of Super Junior
Additional Cast : Jungjin SHINHWA as Jungjin
Warning         : SHO-AI Content ! Don’t like don’t read !! OOC abiz, jadi jangan flame author karena karakter tak sesuai aslinya !!!
Disclaimer     : Super Junior members belong to God and themselves … This story and OC are mine

“Berapa lamakah kompetisinya akan berlangsung?”

“Tiga minggu, paling lama. Itu kalau kita berhasil masuk final.”

“Apa ada yang mengganjal pikiranmu, Han?” tanya ketua Klub Seni.

“Aku hanya mengkuatirkan tentang Donghae. Selama ini, aku yang bertugas mengajari Donghae, mendampingi pak pelatih. Jika aku pergi, lalu bagaimana Donghae akan mengikuti semuanya? Bahkan pelatih juga akan pergi menjadi pengawas tim.”

“Kau tenang saja.” Pelatih Seni Tari angkat bicara. “Aku sudah bicara dengan salah satu murid dari tahun kedua untuk menjadi pengawas latihan menggantikan diriku selama kompetisi berlangsung. Akan kusuruh dia untuk lebih memperhatikan pelatihan Donghae.”

Hangeng tak mampu membalas perkataan pelatihnya. Lagipula, sang pelatih sudah mempersiapkan keikutsertaannya dengan matang, bahkan mengurus tentang pelatihan Donghae pula. Bukan pada tempatnya bila ia masih menolak hal yang juga ia inginkan.

“Baiklah, pelatih.”

……………

Gege benar-benar harus pergi?” Mata memelas Donghae benar-benar tidak bisa diabaikan. Hangeng hampir saja ingin menolak keikutsertaannya, kalau saja ia tidak memantapkan hati untuk mulai meniti jalan kesuksesannya di bidang seni.

“Iya, Hae. Tapi aku berjanji ini tidak akan lama. Hanya tiga minggu, paling lama. Bisa saja kurang dari itu, jika Cheongnam tidak berhasil masuk …” Perkataan Hangeng terhenti karena Heechul memukul kepalanya keras dengan sebuah majalah yang tengah ia baca.

“Apa-apaan kau? Cheongnam harus masuk final, dan memenangkan trofi tahunan itu. Kau harus membuat kami bangga, dan membuat pengorbananmu dengan meninggalkan Donghae disini menjadi tidak sia-sia.” Heechul berkata hampir membentak. Tentu saja ia tidak ingin Hangeng cepat menyerah karena keadaan Donghae yang hampir tidak ada perlindungan di Seni Tari.

Hangeng tersenyum mendengar perkataan keras namun penuh sarat dari seorang Kim Heechul. Dan betapa hatinya menghangat karenanya.

“Heechul benar. Kau harus pergi, Han, dan serahkan urusan Donghae pada kami.” Leeteuk menimpali. “Hae pasti tetap bisa bertahan, selama Hangeng mengikuti kompetisi. Bukan begitu?”

Donghae menatap Leeteuk, dan wajah dengan senyum malaikat itu mampu membuatnya lebih kuat. “Aku berjanji, aku akan menjadi anak baik dan tidak membuat masalah. Supaya Han Gege tidak perlu terlalu kuatir, dan bisa mengikuti kompetisinya dengan tenang.”

“Lalu, bagaimana dengan pelatihan Donghae?” tanya Henry. “Siapa yang akan melatihnya selama Gege pergi?”

“Junjin Sunbae, senior dari tahun kedua, yang akan mengajari Donghae selama aku pergi. Dan yang lain akan belajar dari Hyunjun sunbae, senior dari tahun ketiga,” jelas Hangeng.

“Tidak buruk juga. Paling tidak ada yang bisa mengawasi Donghae di seni tari,” tanggap Leeteuk. “Kau tahu sendiri, bukan? Tak ada satupun dari kami yang berada di sana selain dirimu.”

“Aku mengenal senior yang telah ditunjuk oleh pelatih seni itu.” Tiba-tiba Kibum menyahut. “Aku bisa meminta tolong padanya untuk lebih mengawasi Donghae selama ia berlatih bersamanya.”

“Bagaimana kau bisa mengenalnya, Bummie?” tanya Heechul.

“Kami bersekolah di sekolah dasar yang sama, dan dia juga tinggal tak jauh dari tempat tinggalku,” jawab Kibum.

Mendengar penjelasan Kibum, dan semangat dari sahabat-sahabatnya, Hangeng menarik nafas lega. Paling tidak, ia tidak perlu mengkuatirkan apapun mengenai Donghae.

###############

“KAU GAGAL?” mata membulat Kyuhyun nampak amat tidak sesuai dengan wajah kelewat dewasa yang dimilikinya. Dan nada yang keluar dari mulut itu betul-betul membuat Eunhyuk tak segan-segan memukul kepala Kyuhyun dengan buku yang tengah dibacanya.

“YAK! Mengapa kepalaku jadi korban?” dengus Kyuhyun sambil memegang kepalanya yang berdenyut.

“Karena kau sudah berpikir bodoh, Tuan Jenius,” sahut Eunhyuk tenang sembari kembali membaca bukunya.

“Itu betul, bukan?” ujar Kyuhyun kembali ke posisi semula. Bersandar pada batang pohon tempat partner in crime itu tengah menghabiskan waktu istirahat siang mereka. “Han gege yang dipilih oleh pelatih Seni Tari untuk menjadi wakil murid tahun pertama di ajang kompetisi itu.”

“Dan membuatmu berspekulasi dalam kebodohan.” Eunhyuk menutup bukunya yang semakin dibaca malah semakin membosankan. “Temanya adalah balet modern, oke? Aku tidak tahu apapun mengenai balet, ataupun tarian klasik lainnya. Kecuali pelatih ingin sekolah kita pulang membawa kekalahan, dia pasti sudah memilihku saat ini.”

Mulut Kyuhyun membulat sempurna saat mendengar penjelasan itu. Membuat Eunhyuk seringkali meragukan apakah orang di hadapannya ini jenius betulan atau tidak.

“Lalu, Hyuk, apa yang akan terjadi pada Donghae?” tanya Kyuhyun lagi tanpa mempedulikan dahi Eunhyuk yang mengkerut.

“Kau terbentur?” tanya Eunhyuk sarkastik. “Mana kutahu? Dan aku tidak peduli apa yang terjadi pada bocah itu saat ditinggal penjaga nomor satunya.”

Suara Eunhyuk yang meninggi membuat Kyuhyun sedikit berjengit. Namun pada akhirnya Kyuhyun terkekeh geli melihat sikap Eunhyuk yang sok tidak peduli pada Donghae, tapi sesungguhnya Eunhyuk pun memperhatikan apa yang tengah terjadi di hadapannya.

……………

Di balik jendela koridor ruang kelas murid tingkat kedua, Kibum memperhatikan kedua makhluk yang tengah mengobrol – ah, lebih tepatnya berdebat – di bawah sebatang pohon rindang. Kyuhyun yang menggoda Eunhyuk mengenai Donghae, dan Eunhyuk yang mati-matian menyangkal. Sungguh pemandangan yang menyenangkan, pikir Kibum.

“Kibum-ah, ada apa?” sebuah suara menyapa telinga Kibum. Suara orang yang ditunggu Kibum sedari tadi.

Kibum memberi hormat seadanya dan tersenyum. “Sunbae, sudah lama sekali kita tak mengobrol.”

“Aku tahu kau tidak suka berbasa-basi.” Senior di hadapannya terkekeh. “Katakan saja, kau butuh bantuanku?”

Kibum menampilkan senyum terbaiknya. Atau … seringai?

……………

Donghae cukup senang dilatih oleh Junjin. Seniornya ini memang mudah sekali akrab dengan orang baru, dan tidak pernah merasa canggung untuk berteman dengan siapa saja. Dan Donghae bersyukur karena pelatihan ekstranya diserahkan kepada senior sebaik Junjin.

“Jadi, sunbae, apakah Han gege benar-benar akan membantu tim kita untuk kompetisi itu?” tanya Donghae sesaat setelah latihan mereka berakhir.

“Tentu saja,” jawab Junjin dengan semangat. “Wajah Hangeng itu memang nampak sedikit bodoh, tapi kemampuannya luar biasa. Terutama di bidang tari klasik dan balet.”

Donghae terkekeh mendengarnya. Lidah Junjin memang sedikit tajam. “Berarti kita pasti menang, kan?”

“Ya, kita semua berdoa seperti itu.”

###############

Eunhyuk berlarian menuju ruang kesehatan saat mendengar kabar buruk itu. Donghae dan beberapa murid sekelasnya yang mengikuti klub Seni Tari juga mengejar dari belakang. Setelah sampai di ruangan yang dituju, tanpa basa-basi mereka memasukinya dan menuju ke ranjang paling ujung.

“Junjin sunbae,” cicit Donghae dengan wajah memelas.

“Ah, kalian datang berkunjung?” Junjin, orang yang berbaring nyaman di ranjang itu, memandang semua juniornya dengan senyum kecil.

“Kami mendengar bahwa Junjin sunbae terkilir saat bermain basket, dan dirawat di ruang kesehatan. Jadi kami semua segera kemari,” jelas Eunhyuk.

“Terima kasih karena kalian semua mengkuatirkanku. Tapi tenang saja. Ini hanya kecelakaan kecil. Ya, paling tidak aku tidak mematahkan tulang-tulangku,” kata Junjin sambil bercanda.

“Tapi sunbae pasti kesakitan.” Donghae berkata sambil meringis saat melihat balutan perban di kaki Junjin.

Junjin terkekeh dan menyuruh Donghae mendekat padanya. Dan yang disuruh pun mendekati ranjang dengan wajah sedih.

“Sudah, Hae jangan menampakkan wajah sedih begitu. Aku hanya mendapat cedera kecil, dan mungkin akan absen dua sampai tiga bulan dari Seni Tari.” Junjin menggenggam tanga Donghae erat, supaya Donghae tidak menangis melihatnya. “Jadi aku tidak bisa mengajarimu dulu untuk sementara waktu.”

Donghae menggangguk sambil menahan tangis. “Aku mengerti, sunbae.”

“Tapi tentu saja aku tidak mau meninggalkanmu tanpa ada seseorang yang bisa mengawasi dan mengajarimu untuk latihan menari. Jadi, aku akan menunjuk seseorang untuk menggantikan posisiku, paling tidak sampai semua orang kembali dari kompetisi dua minggu lagi.”

“Benarkah?”

Junjin mengangguk, lalu menoleh ke arah Eunhyuk. “Hyuk-ah, kau mau kan menggantikanku untuk mengajari Donghae?”

Mata Eunhyuk membulat sempurna saat Junjin memintanya untuk menjadi pengawas bagi makhluk yang amat sangat ingin dia hindari. Sementara Donghae diam tak berkutik saat Junjin mengutarakan hal itu.

“T-tapi, sunbae … aku … aku …”

“Aku tahu kalian berada di tahun yang sama, tapi aku percaya kau bisa menggantikanku untuk membimbing Donghae. Teknik menarimu sudah sempurna, jadi aku yakin kau bisa mengajari Donghae dengan baik selama aku masih terkilir seperti ini. Lagipula, hanya tinggal 2 minggu lagi sebelum yang lainnya kembali. Jadi kau hanya perlu membantuku 2 minggu saja. Betul kan, Hyuk?”

Perkataan Junjin telak mengenai sasaran, dan membuat Eunhyuk menyumpah serapah dalam hati. Dia tidak mampu menolak permintaan seniornya, tapi dia tidak mau berkaitan lagi dengan bocah di sampingnya ini.

“Donghae … tidak apa-apa ya, berlatih dengan Hyukjae dulu?” senyum di wajah Junjin kali ini jauh dari kata manis, lebih cenderung mengerikan bagi Donghae. Namun dia juga harus tetap berlatih dengan keras agar bisa menguasai semua teknik menari yang ia inginkan dan tidak jauh tertinggal dari anggota klub Seni Tari yang lain. Jadi dia hanya menggangguk kecil sambil menjawab, “Aku … terserah sunbae saja,” dengan suara sepelan mungkin dan tanpa semangat berarti.

“Nah, bagus, bagus.” Junjin menepuk-nepuk bahu Eunhyuk. “Latihlah Donghae dengan baik, Hyuk. Aku percaya padamu.”

Dan Eunhyuk hanya bisa memaksakan senyum di wajahnya.

###############

“Aku bukannya ingin mengajarimu.” Eunhyuk menegaskan sebelum latihan perdana mereka dimulai.

“Aku tahu.” Donghae tidak berani menatap Eunhyuk secara langsung. Dia sudah meyakinkan Leeteuk dan Heechul bahwa dirinya akan baik-baik saja di bawah pelatihan Eunhyuk, dan mencegah keduanya untuk menyembelih Eunhyuk dengan pisau daging dari dapur sekolah. Berarti dia harus lebih berhati-hati untuk tidak berteriak seperti orang gila seperti yang terjadi terakhir kali Eunhyuk menyentuhnya.

Donghae sendiri tidak mengerti mengapa dia begitu takut dengan Eunhyuk. Mungkin karena penolakan Eunhyuk atas dirinya terlalu menyakitkan hatinya yang terlalu sensitif, atau karena bentakan Eunhyuk yang membuatnya menangis histeris. Yang Donghae tahu, dia sekarang melihat Lee Hyukjae sebagai makhluk menakutkan yang harus dia selalu hindari.

Eunhyuk menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Lakukan pemanasan. Sekarang.”

Donghae menuruti apa yang Eunhyuk perintahkan. Sementara Eunhyuk menunggui Donghae menyelesaikan sesi pemanasannya, dia pun ikut melakukan pemanasan sambil sesekali melihat kelompok Seni Tari yang berlatih di area berbeda dengan dirinya dan Donghae. Selama Donghae belum bisa menyamai kemampuan anggota klub lainnya, pelatih memang belum mengizinkan Donghae untuk bergabung di area latihan utama. Dan untungnya Hangeng rela menghabiskan waktu berlatihnya untuk mengajari Donghae hingga bisa memenuhi standar kualifikasi sang pelatih untuk memasukkan Donghae di area latihan utama itu.

Tanpa sengaja Eunhyuk melihat cara pemanasan Donghae yang tampak aneh di matanya. Dengan dengusan pelan, dia berkata, “Itu yang kau sebut pemanasan?”

Mendengar suara Eunhyuk membuat Donghae tersentak. Dia tidak mengerti apa yang salah dari pemanasan yang ia lakukan. “Han Gege mengajariku seperti ini.”

“Apa dia tidak mengatakan kalau kau kurang lebar membuka kakimu?” Donghae menggeleng sebagai jawaban. “Lebarkan kakimu lebih jauh.”

Perintah Eunhyuk segera dituruti Donghae. Dia pun melebarkan kakinya lebih jauh dari yang biasa ia lakukan. Terasa sakit pada awalnya, namun karena badannya yang cukup lentur, Donghae masih mampu mentoleransi.

Melihat gerakan pemanasan yang sudah Donghae perbaiki dengan sempurna, barulah Eunhyuk bisa melanjutkan pemanasannya sendiri.

Segera setelahnya, mereka pun memulai latihan ala Eunhyuk. Donghae agak sedikit bingung karena Eunhyuk menyuruhnya berlatih gerakan yang sama berulang-ulang, berbeda dengan cara pelatihan Hangeng dan Junjin. Namun dia tetap mengikuti setiap arahan Eunhyuk dengan patuh. Sesekali Eunhyuk mengkoreksi gerakan Donghae yang salah atau tidak konsisten, namun tentu tanpa menyentuh Donghae sama sekali. Dia pun tak ingin mengalami kejadian terakhir bersama Donghae – yang menurutnya sangat menyebalkan –, dan membuat gempar seluruh ruang latihan Klub Seni.

……………

Donghae menarik nafas sebanyak-banyaknya begitu jam latihannya selesai. Semua anggota Seni Tari sudah meninggalkan ruangan lima menit yang lalu, tapi Eunhyuk mengatakan bahwa Donghae belum bisa bergerak konsisten dalam melakukan satu dari lima gerakan yang Eunhyuk ajarkan, sehingga mereka perlu menghabiskan lima menit lebih lama untuk menyempurnakan gerakan Donghae. Eunhyuk tidak masalah jika menghabiskan waktu lebih lama agar pengajarannya hari ini berakhir sempurna. Namun dia hanya tidak suka bila ada yang memprotes keinginannya itu. Mungkin.

Untungnya Donghae tidak mempermasalahkan hal itu, dan tetap mengikuti perintah Eunhyuk untuk berlatih lebih lama. Dia pun ingin menguasai gerakan tersebut dengan sempurna, sehingga dia bisa menunjukkannya pada Hangeng setelah dia pulang nanti.

“Pulanglah. Latihan sudah selesai.” Eunhyuk berkata sambil mengusap peluh di badannya.

Ne,” jawab Donghae pelan. Dia segera mengambil handuk miliknya dan mengusap keringat yang membasahi wajah dan lehernya. Tanpa sadar dia memandangi Eunhyuk yang terpaku memandang lantai sambil mengistirahatkan badannya. Walaupun dia masih sangat takut pada Eunhyuk, namun untuk memandang namja itu diam-diam tidak masalah, bukan?

Melihat Eunhyuk sedekat ini – walaupun sesungguhnya jarak mereka lumayan berjauhan – mampu membuat Donghae teringat bagaimana ia begitu ingin dekat dengannya. Dia setulus hati ingin berteman dengan Eunhyuk, namun pemuda itu selalu menolaknya. Donghae seringkali memikirkan alasan mengapa Eunhyuk sama sekali tidak tertarik menjalin pertemanan dengannya, namun sejak kejadian Eunhyuk membentaknya, Donghae tak lagi memikirkan apapun mengenai seorang Lee Hyukjae.

“Menarilah dengan hati.” Perkataan singkat Eunhyuk membuyarkan segala lamunan Donghae. Membuat pemuda berwajah polos bak malaikat itu terkejut.

“Kalau kau menari hanya demi mengejar ruang latihan utama, kau tidak akan pernah menunjukkan kemampuanmu sesungguhnya.” Eunhyuk kembali berkomentar tanpa memandang Donghae, namun Donghae mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Eunhyuk dengan sungguh-sungguh. “Cobalah menari dengan sepenuh hatimu. Jika kau menari dengan tujuan sekedar menyalurkan bakat, atau bahkan dengan tulus ingin menghibur orang lain dengan tarianmu, kau akan mampu menunjukkan tarian yang sempurna.”

Donghae mengangguk mengerti. Sepertinya dia mulai paham kesalahan terbesar yang ia lakukan sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini, pikir Eunhyuk.

“Bagus. Pulanglah sekarang, atau makhluk-mahkluk yang sering berkeliaran di sekitarmu itu akan menguburku hidup-hidup di halaman belakang sekolah karena menahanmu terlalu lama.” Donghae terkekeh mendengar komentar pedas yang dilontarkan Eunhyuk mengenai sahabat-sahabatnya.

Eunhyuk bangkit dan melangkah menuju pintu keluar sebelum suara Donghae menghentikan langkahnya.

“Hyukjae.” Donghae berkata takut-takut, sementara Eunhyuk menoleh ke arah Donghae dengan sedikit enggan.

“Apa?”

“T-terima kasih.” Donghae berucap dengan tulus.

Entah itu karena sinar mentari sore yang indah, atau memang telinga Eunhyuk yang bermasalah. Namun saat Donghae mengatakan hal itu, lubuk hati Eunhyuk sedikit menghangat.

“Hmm.” Eunhyuk tak tahu bagaimana harus membalas perkataan tersebut dengan benar. Jadi dia hanya bergumam dan meninggalkan ruang Seni Tari secepat yang ia bisa.

###############

Sudah satu minggu lamanya Eunhyuk mengajari Donghae secara privat. Dalam jangka waktu itu pula, Leeteuk dan Heechul mengawasi keduanya bergantian. Dari jauh, tentunya. Hanya sekedar mengawasi. Tak lebih.

Eunhyuk memutar bola mata malas setiap kali menyadari hal itu. Tak ada kontak fisik intim yang ia lakukan pada adik kesayangan mereka, tapi tatapan awasnya penuh ancaman anarkis. Apalagi kalau giliran Heechul tiba. Eunhyuk sudah berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyentuh. Terkecuali saat perlu memperbaiki gerakan yang salah.

Donghae sendiri mulai menunjukkan kemampuan yang pesat. Jauh lebih baik ketimbang saat dilatih Hangeng ataupun Jungjin. Entah karena instruktur latihan privatnya berganti menjadi makhluk yang ia pernah membuatnya histeris tanpa sebab, ataukah karena cara mengajar Eunhyuk yang tegas dan tanpa bercanda disana-sini. Donghae hanya bisa berterima kasih dalam lubuk hati terdalam, terlalu takut membuka obrolan.

“Sudah cukup latihannya.” Sebuah pertanda bahwa Donghae boleh beristirahat setelah berlatih lebih dari 1,5 jam. Dia terguling di atas lantai dengan keringat bercucuran dan mulut megap-megap bak ikan terlempar dari air. Ck, dia memang ikan, decak Eunhyuk dalam hati.

Sementara Donghae beristirahat, Eunhyuk sama sekali tak berhenti menari. Donghae bukannya tidak memperhatikan, bahwa Eunhyuk melakukan beberapa gerakan yang sama berulang-ulang. Seperti sedang menciptakan gerakan tari untuk satu lagu? Terkadang ia melihat Eunhyuk mengganti gerakan yang kelihatannya tidak cocok dengan gerakan berikutnya, lalu menggantinya dengan gerakan lain yang lebih simple. Terus begitu hingga namja itu berhenti menari.

“Apa?” sahut Eunhyuk jengah.

“Eh?” Donghae setengah terkejut.

“Aku tahu kau memperhatikanku sejak tadi.”

Secercah rona menghiasi wajah Donghae. “Err … tidak ada. Sungguh.”

“Sebentar lagi jam latihan berakhir. Lebih baik kau sempurnakan gerakanmu, daripada kau melihatku dengan tatapan lapar,” ujar Eunhyuk setengah ketus.

“Nee.” Donghae segera bangkit dan melakukan perintah, takut dimarahi walaupun hal itu belum pernah terjadi. Namun matanya tak lepas dari pemuda itu. “Hyukjae …”

Suara yang keluar dari bibir Donghae secara tak sengaja itu membuat Eunhyuk menoleh tak rela. “Apa?”

“Itu … tarian yang kau ciptakan sendiri?”

“Sudah kuduga ada sesuatu di dalam kepalamu.”

Bukan jawaban, namun sanggup membuat Donghae berhenti menari, menggaruk pipinya yang tak gatal. “Maaf.”

Eunhyuk menghela nafas, lalu minum dari botol air minumnya dalam satu tarikan nafas. “Itu tarianku sendiri.” Dia kembali menyahut setelah puas meneguk air.

“Tarianmu sangat bagus,” aku Donghae jujur.

Dan jawabannya hanyalah sebuah gumaman.

“Apa lagu yang kau pakai?”

“Aku belum memutuskan.”

“Hah?” Kali ini Donghae betul-betul terkejut.

Eunhyuk berdecak. “Aku hanya menciptakan gerakan. Tanpa lagu pengiring. Ada masalah?”

Donghae menggeleng. “Kupikir orang menciptakan tarian berdasarkan lagu yang mereka dengar.”

“Tidak selalu. Aku bisa menciptakan tarian tanpa harus tahu lagu apa yang bagus untuk gerakannya. Musik hanyalah pengiring, lalu gerakannya disesuaikan. Itu prinsipku.”

Donghae menggangguk-angguk. Entah mengerti, entah tidak.

“Satu minggu lagi instrukturmu kembali.” Eunhyuk berkata tiba-tiba.

Benar. Donghae baru menyadari bahwa Hangeng akan segera kembali bersama tim Seni Tari dari kompetisi. Hanya tinggal satu minggu lagi, waktunya berlatih bersama Eunhyuk akan berakhir.

“Aku akan mengatakan kepada pelatih bahwa perkembanganmu sudah sangat pesat, dan sudah pantas masuk ke area latihan utama. Jadi jangan membuatku malu dengan gerakan patah-patah seperti saat kau pertama kali masuk kesini.”

Seharusnya hal itu membuat yang mendengarnya tertawa. Tapi karena Eunhyuk yang mengucapkan, Donghae hanya bisa membulatkan mata lalu mengangguk mengiyakan.

Diam menyergap.

“Hukjae, terima kasih.” Donghae mencoba memecah keheningan di antara mereka. “Aku bisa menari lebih baik sejak kau mengajariku. Aku tahu kau sesungguhnya kau melakukannya karena terpaksa, karena Jungjin sunbae memintamu. Tapi terima kasih karena kau tidak menolaknya, dan tetap mengajariku tanpa harus marah-marah. Aku … sangat menghargainya. Terima kasih.”

Eunhyuk diam, tapi tetap mendengarkan. “Kau bisa berkembang pesat karena kemampuanmu sendiri. Bukan karena aku.”

“Kalau kau tidak mengatakan kesalahan yang kulakukan sejak awal, aku tidak akan belajar memperbaiki diriku sendiri. Dan … kau yang menyadarkanku. Itu sangat berarti untukku.” Secercah rona merah muda menghiasi pipi Donghae. “T-terima kasih.”

“Well, kalau kau berkata begitu, aku bisa apa?” Eunhyuk mengedikkan bahu, lalu berjalan mengambil tas miliknya. “Sebaiknya kau segera kembali ke asrama. Aku tidak mau dimarahi Leeteuk hyung ataupun berurusan dengan mama tiri Cinderella.”

Kali ini Donghae tertawa lepas. “Heechul hyung tidak segalak itu.” Donghae mengambil tasnya juga, dan bersiap berjalan keluar ruangan menyusul Eunhyuk.

“Tapi dia yang paling galak. Kurasa. Aku tidak tahu, tapi dia menatapku seperti ingin mengulitiku hidup-hidup.”

Eunhyuk hampir saja menyenggol bahu Donghae saat akan melewati pintu. Membuatnya setengah terkejut dan meloncat untuk menjauh, agar Donghae bisa keluar lebih dahulu.

Donghae sendiri terkesiap melihat tingkah Eunhyuk yang menghindari kontak fisiknya dengan refleks kilat. Dikiranya Eunhyuk akan marah dan mengumpat. Tapi melihat mata sarat kekhawatiran di mata beriris coklat milik Eunhyuk, Donghae merasa bersalah.

“M-maaf … aku …” Donghae kebingungan.

“Kau boleh keluar duluan. Kalau kau mau.” Eunhyuk membuang muka. “Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan menyentuhmu lagi. Karena aku tidak mau kau berteriak histeris lagi seperti waktu itu.”

“Maaf. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku saat itu.” Rasa bersalah menumpuk di bahu Donghae yang lunglai. “Han gege tak menceritakan detailnya, tapi Yesung hyung memberitahuku bahwa kau hampir saja dihakimi tanpa diberi kesempatan untuk membela diri.”

“Yang lalu biarlah berlalu. Aku sudah tidak mempermasalahkan itu lagi.”

“Tapi tetap saja …”

“Aku tahu kau shock karena aku pernah membentakmu. Dan mungkin kau sendiri sudah alergi pada diriku karena semua penolakanku dahulu. Ya, aku sendiri tidak keberatan. Semua hal ada alasannya. Dan kuanggap itu bukan masalah besar.”

“Aku tidak alergi apapun.” Donghae berkata jujur. “Sekarang setelah kupikir lebih jauh, sepertinya saat itu aku sangat terkejut dengan semuanya. Benda-benda itu, kau yang tiba-tiba menolongku. Aku tidak alergi padamu, sungguh. Aku tidak takut padamu, atau bahkan membencimu, Hyukjae.”

Keduanya kembali terdiam.

“Kau memang takut padaku …”

“Boleh aku menyentuhmu?”

Perkataan Eunhyuk terpotong oleh permintaan lugu Donghae. Mata Eunhyuk membulat sempurnya karenanya.

“Kau ingin membuatku dalam masalah lagi?” geram Eunhyuk.

“Hanya berjabat tangan.” Donghae bersikeras. “Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku tidak apa-apa. Aku tidak takut padamu, dan aku akan baik-baik saja walaupun sedang bersamamu.”

Donghae mengulurkan tangan. Setengah gemetar, namun penuh tekad untuk melawan rasa takut yang menghantuinya. Eunhyuk mengulurkan balasan tangan setengah ragu, namun tak ingin menyesal bila terjadi hal-hal yang mungkin bisa mematahkan badannya jadi beberapa bagian.

Lima detik. Sepuluh detik. Tiga puluh detik berlalu. Mata Donghae yang awalnya terpejam erat-erat sampai membuat pipinya mengkerut, mulai mengendur perlahan. Eunhyuk sendiri menatap Donghae datar, namun jantungnya berdebar aneh. Dan tak ada satupun yang berniat melepaskan tautan kedua tangan itu.

“Aku tidak apa-apa,” gumam Donghae. “Hyukjae, aku …”

“Ya. Baiklah. Aku tahu. Kau sudah membuktikannya.” Eunhyuk yang pertama kali melepaskan tautan mereka. Sedikit menghentak. Mengabaikan rasa hangat di dadanya.

Donghae menatap Eunhyuk polos. “Apa itu artinya kau tidak membenciku karena sudah membuatmu dimarahi semua orang?”

“Aku tidak membencimu karena alasan konyol.” Dahi Eunhyuk mengkerut.

“Jadi kau membenciku karena alasan lain?”

Eunhyuk mendesah, lalu bersandar pada dinding terdekat. “Aku tidak membencimu.”

Donghae memandang Eunhyuk dengan tatapan polosnya. Lagi.

“Awal mula aku bertemu denganmu, aku hanya berpikir menjadi dekat denganmu bukan suatu pilihan yang baik. Aku bukan pengaruh yang baik untukmu. Dan aku percaya dengan instingku. Kau terlalu polos untuk berada terlalu dekat denganku.” Eunhyuk menjelaskan. “Pernah baca Little Red Riding Hood? Aku serigalanya, dan kau si bocah bertudung merah yang polos. Dan aku hanya berusaha menjauhkanmu dari bahaya. Kira-kira seperti itu.”

“Apa sebegitu berbahayanya berada di dekatmu?” tanya Donghae dan pikiran polosnya.

“Mungkin.” Eunhyuk menatap Donghae sekarang. Tepat di pelupuk mata. “Aku mungkin akan menyakitimu.” Dan sesungguhnya kau sudah menjadi korban kejahilan kami berkali-kali, kalau kau mau tahu.

“Dan Kyuhyun pengecualian?”

“Dia kelihatan polos, tapi sesungguhnya dia adalah jelmaan setan. Dia jauh lebih jahil dariku, dan otaknya penuh akal bulus. Kurasa karena itu aku masih bisa menerima kehadirannya di sekitarku.”

“Apa aku harus jadi Kyuhyun dulu …?”

“Jangan jadi orang lain untuk memperoleh sesuatu. Itu tidak akan jadi tulus,” potong Eunhyuk. “Kau lihat sendiri, dengan dirimu sendiri yang sekarang pun, kita sudah saling bicara panjang lebar menyelesaikan masalah di antara kita.”

Donghae mengangguk-angguk. Mengerti? Eunhyuk tidak bisa menebak. “Apa … apa itu berarti kita bisa berteman? Maksudku tentu tidak seakrab dirimu dan Kyuhyun. Hanya saja kupikir, aku ingin diriku yang dulu kembali. Aku ingin mulai berteman denganmu. Kita mulai dari awal lagi. Tanpa kau berprasangka macam-macam.”

Eunhyuk terkikik pelan. “Sebegitu inginnya kau berteman denganku?”

“Ya.” Donghae begitu semangat menjawab. “Satu-satunya murid di kelas yang belum bisa kudekati hanya kau, Hyukjae. Dan … ya, aku ingin menjadi temanmu juga.”

Eunhyuk menutup mata sebentar. Mengambil jalur yang sedikit melenceng dari insting, bukan hal haram kan?

“Lupakan Lee Hyukjae, dan panggil aku Eunhyuk mulai sekarang.”

TBC

From the author ……………

Annyeong haseyo, readerdeul ^^

GYAAAA, chap ini selesai dalam waktu 1 bulan, YOOOOSH

Ini rekor tercepat. Dan diusahakan agar chap depan pun bisa kelar secepat kilat. Author ga mau punya hutang terlalu banyak. Dan pengen FF ini cepet ending. Soalnya author lagi fokus bikin ff di Shingeki no Kyojin fandom promosi ya

Diharapkan ff ini akan selesai sebelum chapter 10, karena author sudah punya bayangan gimana akhir ceritanya. Dan diusahakan semuanya bisa terangkum dalam 10 chapter aja maksimal. Repot ah, kebanyakan chapter. Kasian yang baca marathon kalo ada, haha.

Anyway, anyhow, gomawo buat semua yang sudah support ff ini. Review, favorite, follower, dan sider, semuanya. Author ini pelupa, jadi mulai sekarang author akan rajin mengucapkan terima kasih di setiap chapter ^^

Akhir kata, would you mind to give any comment here?

A Bouquet of Daffodil – Chapter 3

Chapter 3 - Conniption

Title                : [A Bouquet of Daffodil] Chapter 3 – Conniption

Genre              : Shounen-ai, friendship, romance

Rating             : T

Length            : Chaptered with 3.668 words

Author            : leenahanwoo

Cast                : Eunhyuk, Donghae, Kyuhyun, Leeteuk, Hangeng, Heechul, Kibum, Henry of Super Junior

Warning         : SHO-AI Content ! Don’t like don’t read !! OOC abiz, jadi jangan flame author karena karakter tak sesuai aslinya !!!

Disclaimer      : Super Junior members belong to God and themselves … This story and OC are mine

 

Kibum menatap Eunhyuk dengan mata datar, saat Eunhyuk mengetuk pintu kamar agar dipersilakan masuk. Hangeng benar-benar memindahkan Eunhyuk ke kamar milik ketua kelas tahun pertama itu, sementara Hangeng pindah ke kamar Donghae. Eunhyuk sama sekali tak menyangka, bahwa Hangeng akan berbuat begitu jauh hanya karena satu kesalahan kecil yang bahkan hampir terlupakan olehnya.

“Masuklah. Aku di atas.” Kibum memang dikenal orang yang amat irit dengan kata-kata. Tak jauh berbeda dari Eunhyuk.

Eunhyuk lalu membawa masuk buku-buku dan pakaiannya ke lemari yang telah dikosongkan Hangeng sebelumnya. Menurut perkiraannya, hal ini pasti akan berlangsung lama, atau bahkan hingga tahun pelajaran berakhir. Mengingat bahwa tak satu pun barang-barang Hangeng yang tertinggal di kamar itu. Lalu apa arti dari kata ‘sementara waktu’ yang diucapkannya tadi sore? pikir Eunhyuk geli.

“Hyukjae-ssi.” Kibum memanggil Eunhyuk dari bagian atas kamar. Eunhyuk pun menoleh ke arah sumber panggilan.

“Aku mengawasimu. Berhati-hatilah.”

Lagi-lagi. Begitu singkat. Dan mampu membuat Eunhyuk mengernyitkan dahinya dalam-dalam.

 

###############

 

Keesokan harinya, Donghae memasuki kelas dengan wajah lebih ceria dari hari-hari sebelumnya. Dengan wajah penuh senyum, dia menyapa beberapa teman sekelasnya dengan ramah, dan segera menuju tempat duduknya di samping Henry. Entah mengapa hingga mendekati pukul 8 itu, Henry belum datang, dan tidak juga menampakkan diri di ruang makan.

“Ada apa, Hae?” tanya Hangeng, yang baru saja memasuki kelas. Awalnya mereka memang pergi bersama-sama. Tapi setelah mereka selesai menyantap sarapan, Hangeng dipanggil oleh wali kelas tahun pertama.

“Henry belum datang. Dia jarang sekali terlambat. Apa Gege tahu?” tanya Donghae.

Hangeng menggeleng. “Aku juga tak tahu. Mungkin dia memang hanya terlambat. Bukankah dia sering terlambat bangun?”

Baru saja Hangeng mengatakan hal itu, tiba-tiba Yesung datang mendekatinya dan menyampaikan sepucuk surat. “Henry sakit. Dia ada di ruang kesehatan saat ini.”

“Apa?” seru mereka serempak.

……………

“Henry mochi, cepat sembuh ya,” ujar Donghae sambil menggenggam tangan Henry erat. Walau bagaimanapun, Donghae dan Henry sudah cukup lama berteman dan duduk sebangku pula. Keduanya selalu saling peduli.

“Iya, aku yakin ini hanya demam biasa. Jadi Hae jangan kuatir, oke?” Henry mencoba menegarkan Donghae.

“Tenang saja. Henry anak yang kuat. Jadi Henry pasti akan segera sembuh. Dan bisa menemani Hae lagi,” kata Yesung menambahkan. Henry berada di Asrama Blok A sama seperti dirinya dan Kyuhyun, sehingga Yesung ikut merasa bertanggung jawab atas kesehatan Henry.

Selain Donghae dan Yesung yang saat ini berada di Ruang Kesehatan, hampir semua anggota dari Klub Seni telah menjenguk Henry. Bahkan ketua Klub Seni adalah yang paling pertama membesuk Henry disana. Kekompakan Klub Seni memang boleh dibilang yang paling baik di antara klub-klub lainnya.

Segera setelah dokter jaga menyuruh mereka pulang karena jam besuk telah berakhir, akhirnya Donghae diantar Yesung untuk kembali ke Asrama Dorm B. Selain karena Yesung juga sangat menyukai Donghae sejak namja manis itu mencoba belajar di bidang seni suara, dia juga merasa mengurus Donghae tak jauh berbeda seperti mengurusi adiknya sendiri.

“Aku dengar, Hyukjae-ssi dipindahkan ke kamar Hangeng untuk sementara waktu, dan Hangeng yang pindah ke kamarmu. Apa itu benar?” tanya Yesung sambil membuka pembicaraan.

Donghae mengangguk pelan. “Iya, Hyung.”

“Sebenarnya aku sudah mendengar hampir sebagian besar ceritanya dari Teuk Hyung. Tapi, sebenarnya … Hae memang ingin agar Hyukjae-ssi pindah dari kamarmu?”

Donghae menatap Yesung bingung. “Mengapa Hyung bertanya seperti itu?”

“Karena aku melihatmu selama ini begitu gigih mendekati Hyukjae-ssi. Baik di kelas, di ruang makan, bahkan mungkin di kamar kalian. Dan sejak kejadian dia membentakmu hingga menangis waktu itu, aku melihat kau jadi sangat menghindari Hyukjae-ssi. Tak ada lagi Donghae yang mengekori Hyukjae-ssi setiap hari. Tidak ada lagi Donghae yang begitu ingin berteman dengan Hyukjae-ssi.” Yesung membeberkan fakta yang bahkan Donghae sendiri tak menyadarinya.

Mendengar hal itu, Donghae pun terdiam kaku. Semua yang dikatakan Yesung itu adalah benar adanya. Sejak kejadian itu, Donghae berusaha tak bertemu muka lagi dengan Eunhyuk. Dia akan berangkat pagi-pagi sekali untuk berangkat bersama Hangeng dan Kibum, dan pulang sesegera mungkin agar tak perlu bertemu Eunhyuk di bagian bawah kamar. Sekalipun ia ingin ke kamar mandi ataupun komputer yang terletak di bagian bawah, dia akan menunggu Eunhyuk keluar kamar, atau benar-benar tertidur. Selama seminggu sebelum Eunhyuk akhirnya dipindahkan, Donghae begitu larut dalam ketakutan. Setelah Hangeng berhasil memindahkan Eunhyuk, dan sang ketua kelas akhirnya menemani Donghae di kamarnya, barulah ia merasa begitu lega.

“Aku rasa … aku memang menghindarinya.” Donghae mencoba menjabarkan perasaannya tanpa mampu mengangkat kepalanya yang tertunduk. “Aku takut dia akan semakin membenciku jika aku meneruskan apa yang kulakukan, berusaha menjadi temannya. Aku takut, jika dia melihat keberadaanku di sekitarnya, dia akan kembali membentakku, dan bahkan membenciku lebih dari sebelumnya. Itu … menakutkan.”

“Sejak awal, aku selalu ingin berteman dengan Hyukjae. Bukan hanya karena kami berada di kelas yang sama, namun juga karena kami tinggal di kamar yang sama. Aku ingin sekali bisa dekat dengannya. Tapi aku tak tahu apa yang membuat Eunhyuk begitu tak menyukaiku. Dia tak pernah sekalipun menanggapi keberadaanku. Hingga kejadian itu terjadi, barulah aku menyadari bahwa selama ini Hyukjae memang membenciku. Dan sejak itu pula, aku berusaha keras agar Hyukjae tak merasa terganggu dengan kehadiranku di sekitarnya. Sedapat mungkin aku menghindarinya.”

“Apa itu artinya Hae membenci Hyukjae-ssi?” tanya Yesung.

Donghae menggeleng kuat-kuat. “Aku tak pernah membenci siapapun. Dan aku juga tak ingin dibenci siapapun. Tapi, melihat Hyukjae membenciku … apa itu berarti aku harus membencinya juga?”

Yesung tersenyum mendengar pengakuan Donghae. Dia mengelus pucuk kepala Donghae lembut, lalu berkata, “Hae anak yang baik. Mudah-mudahan kebaikan juga akan selalu menghampirimu.”

Yesung dan Donghae terus berlalu hingga pintu masuk Asrama Blok B. Tanpa mereka sadari, seseorang di sudut sana mendengar semua percakapan itu.

 

###############

 

Kyuhyun menatap partner in crime-nya dengan dahi mengernyit. Pasalnya, satu-satunya sahabat yang ia miliki itu menatap meja makan tanpa niat sedikitpun untuk menghabiskan makanan yang ada di hadapannya. Padahal, Eunhyuk tergolong cukup rakus, jauh dibandingkan porsi tubuhnya yang kurus. Memang benar bahwa sekarang sudah memasuki minggu kedua sejak Eunhyuk dipindahkan ke kamar Kibum. Dan sejak saat itu pula, Eunhyuk menjadi jauh lebih pendiam dari biasanya. Kyuhyun hanya takut, Eunhyuk tertular oleh Kibum, yang memang terkenal paling pendiam di kelas.

“Berhenti menatapku seolah-olah aku sedang kerasukan sekarang,” ujar Eunhyuk datar tanpa berniat menoleh ke arah Kyuhyun.

“Ada apa denganmu? Ini sudah seminggu sejak kau berkelakuan aneh begini.”

“Aku hanya lelah, oke?”

“Kibum mengintimidasimu?”

Eunhyuk menggeleng. “Tentu saja tidak. Aku hanya sedang amat sangat bosan.”

“Pasalnya?”

“Donghae sudah memutuskan untuk mendalami seni tari.”

Kali ini, Kyuhyun mengernyit lebih dalam, tapi disertai seringai kesukaannya. “Memang apa masalahnya dengan hal itu? Tidakkah itu bagus?”

“Ini bencana, asal kau tahu saja. Aku mulai muak melihatnya yang tak berhenti berlatih di ruang latihan seni. Dan aku benci melihatnya yang begitu bersemangat berlatih bersama Hangeng.”

“Merasa tersaingi, eoh?”

“Aku mampu menari jauh lebih baik dari dirinya. Dan aku tidak merasa iri sedikitpun pada bocah itu.” Eunhyuk menatap Kyuhyun dalam-dalam. “Jadi berhentilah berkata yang bukan-bukan.”

Kyuhyun tertawa keras-keras melihat ekspresi kemarahan Eunhyuk. Membuat beberapa kepala menoleh heran ke arah kedua sahabat itu. “Baiklah, baik. Aku mengerti.”

Eunhyuk pun mulai memakan makanannya dengan lahap. Amarah nampaknya berhasil membuat dia menyadari bahwa perutnya tengah kelaparan sekarang.

“Hei, kau tahu tidak?”

“Apa?” Eunhyuk ingin sekali memukul kepala Kyuhyun dengan sendok yang tengah ia pegang, karena makhluk itu telah mengganggu makan tenangnya.

“Aku rasa, aku ingin sekali melakukan ‘kejahatan kecil’ kita sekali lagi. Yah, walaupun kau bilang, mungkin saja Kibum mencurigai kita dan mengawasi tanpa kita ketahui. Tapi jujur saja, aku ingin sekali melakukannya. Bagaimana menurutmu?”

Kali ini, Eunhyuk tersenyum senang. Kadang-kadang, Kyuhyun mengerti apa yang dibutuhkannya.

……………

Eunhyuk menatap ceria kepada Kyuhyun yang baru saja menyelesaikan ‘rencana kecil’ mereka. Hanya tinggal menyelesaikan tahap akhirnya, dan mereka hanya tinggal menikmati kesenangan dari perbuatan tersebut.

“Hei, Kyu. Apa ini juga akan berhasil seperti biasanya?” Eunhyuk melihat ember yang telah dipersiapkan Kyuhyun.

“Tentu saja. Ini sudah kuprediksi dengan teliti, dan hasilnya tak akan mengecewakan.” Kyuhyun mendongak ke bawah bangunan yang mereka datangi, dan tersenyum puas. “Di antara semua bangunan, hanya Gedung Klub yang paling rendah ketinggiannya. Dan gedung ini tentu saja menjadi tempat yang sempurna untuk ‘kejahatan kecil’ kita kali ini.”

“Benarkah?” Eunhyuk ikut menatap ke arah bawah. Memang tak banyak yang melewati tempat yang mereka pasangi jebakan, sehingga sangat kecil kemungkinan apa yang mereka lakukan akan bisa diketahui orang-orang.

“Baiklah. Ayo kita memasang tahap akhirnya,” ajak Kyuhyun.

“Hei, Kyu. Apakah sebuah keharusan kita mengawasi ‘rencana’ kita ini? Aku rasa, Kibum tidak tahu apa-apa. Tidakkah kita sebaiknya melakukannya seperti biasa, membuatnya lalu pergi?” Eunhyuk melayangkan protes.

“Ini hanya sebuah pencegahan, oke? Kita tidak mengenal Kibum, dan dia nampaknya mencurigakan. Mengatakan bahwa ia akan mengawasimu, kurasa bukan hanya sekedar gertakan.” Kyuhyun mengeluarkan hipotesisnya. “Lebih baik kita waspada sejak awal, daripada harus menanggung hal yang lebih berat lagi.”

Eunhyuk menggangguk membenarkan.

……………

“Donghae, boleh aku meminta tolong?”

Donghae mendongak, dan mendapati salah seorang kakak sekelasnya dari klub bidang seni instrumen tengah memasang wajah kelelahan. Nampaknya ia baru saja menyelesaikan pelajaran olahraga, dilihat dari baju seragam yang ia pakai saat ini.

“Ya?”

“Jam makan siang belum berakhir, bukan? Bisakah kau menolongku mengangkat beberapa peralatan olahraga ini? Aku akan membawa sebagian, dan kau bisa membawa sisanya.”

Donghae tersenyum, lalu mengiyakan. Dengan senang hati ia menolong kakak kelas yang cukup baik padanya selama Donghae menggeluti bidang seni instrumen. Lagipula, gudang peralatan olahraga berada tepat di belakang Gedung Klub, yang berarti tak begitu jauh dari Gedung Sekolah Utama.

……………

Kyuhyun dan Eunhyuk tengah bersantai sambil mengawasi ‘kejahatan kecil’ yang sudah mereka pasang dengan sempurna. Mereka memilih tempat yang tak begitu jauh, tetapi tetap mampu menyembunyikan diri mereka. Semak-semak di antara pepohonan di bagian belakang gedung Klub memang sangat cocok untuk bersembunyi.

Saat mereka berdua mendengar suara gemerisik pelan dan suara sayup dua orang tengah berbicara, barulah keduanya bersiaga. Berharap kalau-kalau mereka adalah calon mangsa yang bagus untuk jebakan mereka, dan sambil berdoa bahwa Kibum yang mereka curigai tidak sedang berada di daerah tersebut. Namun wajah keduanya langsung berubah pias begitu mengetahui siapa yang baru saja mendekati tempat itu.

“Donghae?” bisik mereka hampir bersamaan.

Dari tempat mereka bersembunyi, dapat mereka lihat sosok Donghae bersama salah satu senior mereka dari Klub Seni. Keduanya sedang membawa peralatan olahraga yang cukup banyak, dan kelihatannya tujuan mereka adalah gudang peralatan olahraga yang memang terletak tak begitu jauh dari Gedung Klub.

“Apa yang Donghae lakukan disini?” cicit Kyuhyun.

“Bagaimana mungkin aku tahu? Aku bukan pengasuhnya,” cerca Eunhyuk.

Hatinya dipenuhi kekalutan sekarang. Donghae sudah menjadi korban kejahatan kecil mereka dua kali, dan dia sama sekali tak ingin mengulang hal itu sekali lagi. Bukannya ia merasa kasihan atau apa. Hanya saja, Eunhyuk benar-benar tak ingin berurusan dengan makhluk bernama Donghae lagi. Dan bukan tidak mungkin, jika Donghae kembali mengalami hal buruk karena dirinya, dia akan dibuang dari asrama Blok B. Atau bahkan dikeluarkan dari Cheongnam, mengingat Hangeng cukup berkuasa di angkatan tahun pertama ini.

……………

“Terima kasih, Hae-ah,” ujar senior Donghae dengan rasa lega.

“Sama-sama, Sunbae. Aku senang bisa menolong Sunbae,” kata Donghae.

“Aku kembali ke kelas, ya. Sebaiknya Hae juga segera kembali. Waktu istirahat sebentar lagi berakhir.”

“Baik, Sunbae.”

Dengan segera, sang senior meninggalkan Donghae sendiri. Membuat Donghae tersenyum setelahnya. Ini memang kehidupan yang selalu ia sukai. Bisa berinteraksi dengan banyak orang, dan dibutuhkan oleh khalayak. Donghae selalu suka membantu orang lain, dan ia ingin melakukannya sepanjang hidupnya.

Donghae melangkahkan kaki dengan riang menyusuri bagian belakang Gedung Klub. Sembari mengingat-ingat berbagai kenangan manis yang ia lakukan bersama sahabat-sahabatnya di gedung tersebut. Hangeng, Leeteuk, Heechul dan Henry memperlakukannya dengan baik, dan dia amat bersyukur karena dapat menjalin persahabatan yang erat dengan mereka.

Dan di saat itulah, ia tak sengaja melihat sebuah tali aneh yang bergelayut di dinding gedung. Entah karena ada murid yang iseng, atau ada tali yang memang terlepas dari atap gedung tersebut. Dan opsi kedua yang Donghae pilih, membuatnya mendekati tali tersebut dan berniat untuk melaporkan kepada guru pengawas sekolah jika memang ada bagian gedung yang mungkin rusak.

Hingga sebuah teriakan keras menyapa telinga Donghae, yang mencoba mencegahnya untuk menarik tali tersebut, namun sangat terlambat. Donghae begitu terkejut saat ada seseorang yang menerjangnya dengan sekuat tenaga hingga keduanya terjatuh terguling ke tanah. Dan suara-suara benda-benda berjatuhan dari atap gedung pun terdengar kemudian. Membuat Donghae tersadar bahwa dirinya baru saja terselamatkan dari bahaya.

Tapi rasa syukur itu langsung berganti menjadi rasa ketakutan yang besar, saat Donghae membuka mata dan mengetahui siapa orang yang baru saja menyelamatkan nyawanya. Dan yang terdengar setelahnya hanyalah sebuah jeritan panjang dan tangisan keras yang membahana.

 

###############

Eunhyuk dan Kyuhyun berada di ruang santai lantai tiga Gedung Asrama Siswa dengan dikelilingi oleh seluruh penghuni Asrama Blok A dan B lantai tiga. Keduanya tengah diinterogasi atas kejadian yang menimpa Donghae. Bukan karena ‘kejahatan kecil’ yang mereka lakukan – hal itu bahkan tidak dipikirkan lebih lanjut oleh seluruh siswa –, tapi ini lebih kepada apa yang terjadi pada Donghae tepat setelah Eunhyuk menyelamatkannya.

Ya benar, bahwa Eunhyuk tanpa pikir panjang langsung berlari dan melompat ke arah Donghae untuk menghindari barang-barang yang terjatuh sesaat setelah Donghae menarik tali yang ia temukan. Mungkin tidak tepat mengatakan bahwa Eunhyuk dengan senang hati menyelamatkan Donghae, tapi hal ini lebih karena Eunhyuk tak ingin Donghae kembali menjadi korban kenakalannya bersama Kyuhyun. Entah itu bisa disebut kasihan atau tidak.

“Aku bertanya sekali lagi, Lee Hyukjae-ssi. Apa yang kau lakukan pada Donghae?” ucap Hangeng dengan nada sedingin es.

Eunhyuk kembali mendengus. Seharusnya semua orang berterima kasih padanya karena berhasil menyelamatkan Donghae dari hasil perbuatannya bersama Kyuhyun. Tapi bukan rasa terima kasih yang ia dapat, melainkan pertanyaan menusuk dan interogasi. Salahkan pada Donghae yang tiba-tiba menangis histeris sambil berteriak-teriak saat ia menyelamatkannya.

“Sudah kukatakan bahwa aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada Donghae-ssi. Mengapa kalian terus menyalahkanku seperti seorang penjahat disini? Aku bahkan sudah menyelamatkan nyawa adik kesayangan kalian itu. Tidak adakah yang ingin mengucapkan terima kasih barang sedikit saja?”

Perkataan Eunhyuk yang kasar membuat beberapa orang, termasuk Hangeng, semakin mengeratkan kepalan tangan mereka. Menahan emosi untuk tidak langsung menghajar pemuda di hadapan mereka.

“Aku tidak bisa mempercayaimu dengan mudah. Kita semua yang berada disini tahu apa yang terjadi antara dirimu dan Donghae. Dan bukan tidak mungkin kalau kau berusaha berbuat sesuatu padanya.” Leeteuk angkat bicara. Jujur saja, ia pun ingin sekali menghukum Eunhyuk dengan cara apapun. Tapi dia juga tak ingin emosi yang mengendalikan permasalahan, dan membuatnya melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.

“Leeteuk Hyung. Kami tahu, mungkin sulit bagi kalian semua untuk mempercayai apa yang kami jelaskan. Tapi sungguh, kami tidak berbohong bahwa kami memang berusaha menyelamatkan Donghae. Dan bisa kupastikan bahwa itu bukanlah salah Eunhyuk, saat Donghae tiba-tiba saja mengamuk dan menangis segera setelah ia menyelamatkan Donghae. Hal itu benar-benar di luar pemikiran kami, dan Donghae seperti itu jelas bukan karena kami.” Kyuhyun ikut menjelaskan.

“Lalu karena apa?” Hangeng masih belum bisa mempercayai penjelasan Kyuhyun.

“Kami tidak tahu,” ujar Eunhyuk final. “Kami hanya kebetulan lewat, dan menemukan bocah itu sedang dalam keadaan bahaya. Jadi kami tidak terpikir apapun selain berusaha menyelamatkannya saat itu. Mungkin saja ia shock atau apalah. Yang pasti, itu bukan kesalahan kami.”

Semua orang terdiam setelah mendengar penjelasan terakhir dari Eunhyuk dan Kyuhyun. Nampaknya penjelasan itu cukup membuat kemarahan mereka sedikit mereda.

“Baiklah. Untuk kali ini saja, aku akan mempercayai kalian.” Hangeng berkata akhirnya. “Kita tidak akan mempermasalahkan hal ini lebih lanjut. Dan kalian semua, sebaiknya kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat.”

Barulah setelah Hangeng berkata seperti itu, seluruh murid tahun pertama perlahan meninggalkan ruangan satu per satu. Tidak terkecuali Hangeng dan Leeteuk, yang tanpa basa basi segera menuju ke kamar Donghae untuk memastikan keadaannya masih baik-baik saja. Mungkin benar bahwa ada Henry dan Heechul menjaga Donghae, tapi tetap saja tak memungkiri bahwa mereka berdua masih tetap mengkuatirkan keadaan adik kesayangan mereka itu.

……………

Di kamar Donghae, sayup-sayup masih terdengar suara isakan kecil yang menggema di ruangan tersebut. Nampak bahwa Donghae sudah terlihat lebih baik, dengan berakhirnya tangisan panjang yang sedari sore tak bisa berhenti. Namun wajah sembab dan mata bengkak masih menghiasi wajah halus itu. Heechul hanya bisa mengelus kepala Donghae, sementara Henry menggenggam erat tangan sahabatnya itu. Mereka tak mampu menghibur Donghae, jadi keduanya berharap apa yang tengah mereka lakukan dapat sedikit membantu.

Dan suara pintu terbuka membuat Heechul dan Henry mendongak. Sedikit merasa lega saat mengetahui bahwa Hangeng dan Leeteuk sudah kembali. Heechul pun segera turun ke bagian bawah kamar, agar pembicaraan mereka tak sampai mengganggu Donghae.

“Teukie-ah. Bagaimana? Apa memang terjadi sesuatu antara Donghae dan kedua bocah itu?” Heechul segera memberondong Leeteuk dengan pertanyaan yang sudah lama bersarang di kepalanya.

Leeteuk menggeleng. “Kami sudah menginterogasi Kyuhyun dan Eunhyuk. Tapi mereka bersikeras bahwa tidak terjadi apa-apa, selain keduanya berusaha menyelamatkan Donghae dari jatuhnya ember-ember bekas yang terjatuh dari atap Gedung Klub.”

“Aku hanya tidak habis pikir. Semua ini terlalu aneh, dan aku tidak bisa memikirkan adanya kesalahan yang membuat Donghae sampai menangis seperti itu.” Hangeng mengurut pelipisnya frustasi. “Keduanya nampak jujur dan tidak berbohong. Tapi Donghae yang mendadak histeris membuatku bimbang. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, dan ini membingungkan.”

“Lalu apa kata dokter jaga Ruang Kesehatan? Donghae tidak apa-apa, kan?”

“Kemungkinan besar hanya shock ringan. Bukan sakit yang berat,” jawab Leeteuk.

“Ah, syukurlah.” Heechul tersenyum lega. “Aku dan Mochi begitu takut jika terjadi hal yang buruk pada Donghae.”

“Tidak akan ada hal-hal buruk yang menimpa Donghae. Kita sudah berjanji akan selalu melindunginya, bukan?” kata Hangeng.

Leeteuk dan Heechul mengangguk mengiyakan.

……………

Eunhyuk meraup wajahnya frustasi setelah semua murid meninggalkan ruangan. Kyuhyun hanya bisa terduduk di samping Eunhyuk tanpa mampu berkata apa-apa. Setidaknya mereka boleh sedikit bernafas lega, karena kenakalan mereka masih belum terungkap.

“Ini semua salahmu,” tuduh Eunhyuk. “Aku sudah mengatakan padamu untuk segera menyingkir dari tempat itu. Tapi kau masih bersikeras untuk tinggal.”

“Aku tahu.” Kyuhyun berkata pasrah. “Aku memang hanya berpikir untuk mengawasinya saja. Aku tak tahu jika akan terjadi seperti ini. Maafkan aku.”

Penyesalan Kyuhyun mau tak mau membuat Eunhyuk sedikit iba. Bagaimanapun, Kyuhyun sudah banyak membantunya saat interogasi tadi. Dan bukan pada tempatnya bila ia terus menyalahkan partner in crime-nya atas kejadian kali ini.

“Aku juga bersalah,” aku Eunhyuk. “Seharusnya kubiarkan saja bocah itu tertimpa barang-barang bekas itu. Dia selalu saja menyusahkanku.”

“Kalau kau melakukannya, itu akan sangat disayangkan.” Suara sayup menyapa telinga Eunhyuk dan Kyuhyun, membuat keduanya terlonjak kaget.

“Kibum-ssi,” ucap Kyuhyun pelan.

Kibum memasuki ruangan itu tanpa mempedulikan tatapan sengit dari Eunhyuk. Segala prasangka mereka ternyata benar. Kibum mengetahui lebih banyak dari yang mereka kira.

“Sudah kukatakan bahwa aku mengawasimu, Hyukjae-ssi. Dan itu bukan bualan.” Kibum menegaskannya lambat-lambat. “Aku berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan Hae dari kejahatan kecil yang kalian rancang. Tapi bila kau tidak rela melakukannya, aku akan sangat menyayangkannya.”

“Apa maumu sebenarnya?” tanya Eunhyuk tanpa basa-basi.

“Tidak ada,” kata Kibum santai sembari mendudukkan diri di sofa yang berhadapan dengan Eunhyuk dan Kyuhyun. “Aku tahu kejahatan kecil yang kalian lakukan. Semuanya, tanpa kecuali. Dan bukan tidak mungkin jika aku ingin mengatakan kebenarannya pada Han Gege, atau bahkan wali kelas kita. Tapi aku masih memikirkan konsekuensinya. Track record kalian akan tercemar, begitu pula dengan kelas tahun pertama.”

“Lalu?”

“Aku juga ingin mengatakan, bahwa entah sengaja atau tidak, Hae selalu saja menjadi korban kenakalan kalian.”

“Aku sudah tahu hal itu sejak dulu,” ujar Kyuhyun sambil tersenyum tipis. “Dan kukatakan pada Eunhyuk, bahwa mungkin saja ini memang takdir yang menautkan benang merah pada mereka.”

Hampir saja Eunhyuk memukul kepala Kyuhyun saat itu juga, jika saja tidak ada suara tawa Kibum yang menggelegar. Membuat kedua terheran-heran dengan namja manis yang bahkan amat jarang mengeluarkan suaranya.

“Ada apa denganmu? Aneh sekali,” sahut Eunhyuk.

“Aku hanya tak menyangka, walaupun aku jarang berbincang dengan Kyuhyun, tapi pikiran kami serupa,” jelas Kibum setelah susah payah menghentikan tawanya.

“Benarkah?” Kyuhyun sedikit senang mendengarnya.

Sementara Eunhyuk sama sekali tidak mempedulikan percakapan mereka. “Lalu apa sekarang maksud kedatanganmu?”

Kibum tersenyum tipis, lebih ke arah seringai. “Aku tidak memiliki maksud tertentu disini.”

“Jadi?”

“Aku ingin menjelaskan, bahwa aku tidak ingin terlibat dalam kenakalan yang kalian perbuat, walau hanya sebagai ‘orang-yang-mengetahui-hal-itu’. Jadi kuputuskan untuk menutup mata dan membiarkan kalian berbuat sesukanya. Aku tidak akan memberitahukan siapapun, tapi aku harap kalian bisa menjaga diri. Aku akan tetap mengawasi kalian, dan terutama dirimu, Lee Hyukjae.”

“Aku?” tunjuk Eunhyuk pada dirinya sendiri.

“Ya. Dirimu, dan Lee Donghae.” Kibum menyeringai dalam hati. “Terutama sekali, aku akan mengawasi kalian berdua.”

 

###############

Hangeng menatap Donghae dengan perasaan lega. Setelah Leeteuk, Heechul dan Henry kembali ke kamar mereka masing-masing, Hangeng tak sedikitpun beranjak dari pinggiran tempat tidur teman sekamarnya itu. Paling tidak, saat ini Donghae sudah lebih baik. Tak lagi histeris, dan tak ada lagi jejak-jejak air mata.

Gege, beristirahatlah,” sahut Donghae dengan suara yang amat serak, “Aku sudah tak apa-apa.”

“Tak apa, aku akan menemanimu hingga kau tertidur.” Hangeng menolak dengan halus. “Dengan seperti ini, aku benar-benar bisa menjagamu.”

Donghae membulatkan matanya, memancarkan kebahagiaan polos dari binar mata itu. “Terima kasih, Gege.”

“Jangan sungkan.” Hangeng tampak senang, lalu mengelus pucuk kepala Donghae dengan sayang. “Kau adalah adik kesayangan kami, sama seperti Henry. Kami telah berjanji akan selalu melindungi kalian, dan itulah yang akan kami lakukan.”

“Bagaimana dengan Kibum?” tanya Donghae dengan kening bertaut. Pasalnya, Hangeng tak menyebutkan nama makhluk pendiam itu dalam daftar ‘orang-yang-akan-selalu-mereka-lindungi’.

“Kibum bisa menjaga dirinya sendiri, lebih dari yang kami bisa lakukan.”

“Menyenangkan sekali,” seru Donghae cemburu. “Padahal dia jauh lebih muda dariku, tapi bagaimana ia bisa mendapat kebebasan lebih?”

“Dia adalah pribadi yang cukup dewasa, mampu berjalan sendiri sesuai keinginannya. Kami sudah melepas gelar maknae darinya, jauh sebelum kau dan Henry bergabung.”

“MWO?” Donghae betul-betul terkejut mendengar penjelasan Hangeng. “Aish, aku kalah telak darinya.”

Mau tak mau Hangeng tertawa mendengar bagaimana Donghae menjadi sangat pencemburu dan kekanakan, tanpa ada sedikitpun kebohongan di dalamnya. Dan sikap inilah yang ia sukai dari Donghae. Kejujuran akan perasaannya sendiri.

“Baiklah, karena sekarang sudah jelas siapa maknae-nya, jadi sebaiknya maknae nomor satu ini segera menutup mata dan tidur.”

“Baiklah, Ge.” Donghae menurut dengan mudahnya. Mata beningnya telah memerah sempurna, memebuat siapapun bisa menebak bahwa namja manis ini telah amat mengantuk. “Jumuseyo, Gege. Jaljayo.”

Jaljayo, dongsaengie.”

Hangeng pun menuju tempat tidurnya sendiri, segera setelah dia memastikan Donghae betul-betul tertidur. Dalam hati dia merasa lega, karena Donghae baik-baik saja. Namun entah mengapa, perasaannya yang mengatakan bahwa ini barulah permulaan. Awal dari masalah-masalah lain setelahnya. Tapi dengan segera pula, ia menepis pikiran buruk itu. Mungkin itu hanyalah perasaan tak mendasar. Jadi dia segera tidur dan berdoa dalam hati, agar apa yang ia rasakan tidak terjadi. Tidak akan terjadi.

 

TBC

 

From the author ……………

Annyeong haseyo, readerdeul ^^

Chap ketiga dari A Bouquet of Daffodil selesai, hehehe. Belum banyak masalah yang timbul, karena ini masih permulaan. Sesuai kata Han Gege di atas, ini hanyalah awal dari masalah-masalah lainnya. Jadi berharap saja author lelet ini akan segera memunculkan ketegangan di chap selanjutnya, kekeke.

Akhir kata, would you mind to give any comment here?

At the Beginning Series – Chapter II

Series One - Chap IICast:

  • Kai Hiwatari (Beyblade) as Kai Hiwatari
  • Rina (OC)

Other Cast:

  • Kon Rei (Beyblade) as Kon Rei
  • Takeru Takaishi (Digimon Adventure) as T.K. Takaishi
  • Ken Ichijouji (Digimon Adventure) as Ken Ichijouji
  • Max Mizuhara (Beyblade) as Max Mizuhara
  • Hikari Yagami (Digimon Adventure) as Hikari Yagami
  • Olivier Polanski (Beyblade) as Olivier / Livey Polanski
  • Emily York (Beyblade) as Emily York
  • Casey Athea Michael (OC)
  • Iori Hida (Digimon Adventure 2) as Cody Hida

 

Genre              : Romance & Friendship

Rating             : T

Length            : Chaptered with 4.636 words

Author            : leenahanwoo

Warning         : Crossover fanfiction ! Don’t like don’t read !!

Disclaimer      : All characters in this story are not mine except the idea and OC

 

CHAPTER II – Matter to Matter

 

T.K. cs telah tiba lebih dulu di Villa. Mereka menunggu Casey cs, serta Hikari dan Kai yang masih harus mengurusi beberapa hal lain di sekolah. Rei baru saja mengantarkan minuman yang dipesan T.K., Ken, dan Max saat Casey, Emily, dan Olivier memasuki Ruang Pertemuan.

“Wah, sorry. Sudah lama menunggu, ya?” tanya Olivier.

“Tidak apa. Kami juga baru tiba sepuluh menit yang lalu.” T.K. menjawab dengan bijak.

Wajah Olivier dan T.K. terlihat sedikit memerah saat bercakap seperti itu. Mereka sebenarnya saling menyukai, tapi tak satupun dari mereka berdua yang berani menyatakan perasaan masing-masing.

Emily segera menghampiri Max dan memeluknya.

“Kalian dari mana?” tanya Max setelah mencium Emily dengan mesra.

“Ada yang harus kami beli tadi di supermarket. Biasa, urusan perempuan.” Emily menjawab dengan sikap genit.

“Kalian mau pesan minuman juga?” tanya Rei.

“Aku mau fruit punch.” Olivier menjawab.

“Aku juga,” sambung Emily.

“Cass?” T.K. bertanya.

Casey hanya menggeleng pelan, tak menjawab apa-apa. Ekspresinya datar, dan matanya terlihat sedikit sembab. Melihat hal itu, Rei berbisik pada Olivier yang berada di dekatnya.

“Ada apa dengannya?”

“James memutuskannya tadi malam. Tanpa sebab. Makanya dia jadi sedih sepanjang hari ini.”

“Lebih baik kita jangan ganggu dia dulu hari ini,” kata Ken menimpali dengan suara pelan.

Rei hanya mengangkat bahu, tidak terlalu mempedulikan hal itu. Biarlah para gadis yang menyelesaikannya, katanya dalam hati. Toh aku juga tak mengerti! Dan dia pun pergi ke dapur untuk membuatkan pesanan teman-temannya.

Casey duduk termenung sambil menatap tempat lilin yang ada di hadapannya. Pikirannya seperti kosong, karena dia merasa tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Terlalu banyak hal yang berkecamuk di dalam hatinya. James Orlens memutuskannya secara sepihak, membuat jiwanya terguncang dengan sangat hebat. James adalah cinta pertamanya, dan berpisah dari James merupakan pukulan terberat baginya.

Teman-temannya hanya melihat Casey tanpa banyak bicara. Mereka merasa kasihan pada Casey, tapi mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Olivier dan Emily sudah mencoba memberinya dukungan, tapi kelihatannya hal itu tidak begitu berarti untuknya.

Dari luar jendela, terlihat Rina berjalan perlahan-lahan menuju jendela tempat dia biasa duduk menatap laut. Selintas dia melihat anggota Destiny sedang duduk berkumpul di meja paling tengah di Ruang Pertemuan Villa. Tapi dia tidak berniat mengganggu, melihat suasana dingin yang sedang mengelilingi mereka. Jadi dia memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan tempat mereka berada.

Rei memasuki Ruang Pertemuan sambil membawa pesanan minuman Olivier dan Emily saat Rina baru saja terduduk di pinggiran jendela paling ujung. Rei tersenyum riang ketika Rina tersenyum padanya. Rei pun menghampiri Rina segera setelah membawakan pesanan itu.

“Hai, my Queeny. Baru sampai? Dari mana?”

“Iya, Gege. Aku baru sampai. Aku dari sekolah, tapi agak terlambat pulang. Ada sesuatu yang harus aku urus sebentar.”

“Oh begitu. Mau pesan apa? Yang biasa?”

“Iya, Ice Coffee Milk Special buatan Rei-ge. Tolong agak cepat ya, Gege. Aku haus sekali.”

Okay, my Lovey Dovey Queeny.”

Rei buru-buru ke dapur untuk membuatkan pesanan Rina. Rina hanya tersenyum melihat Rei begitu memperhatikannya. Memang sedikit berlebihan, tapi perhatian itu yang mungkin saat ini sedang ia butuhkan.

Casey melihat perlakuan Rei pada Rina selintas. Dia jadi banyak berpikir. Dulu James juga memperlakukannya seperti itu. Begitu perhatian, membuatnya merasa hangat dan nyaman saat bersama James. Tapi sekarang James mencampakkan. Tanpa alasan yang jelas. Membuatnya terus bertanya-tanya.

Kai dan Hikari terlihat melintasi pantai bersama-sama. Rina hanya memandang sekilas, merasa sedikit takut. Anggota Destiny yang lain terlihat begitu girang melihat kedatangan mereka berdua. Mereka berdua terus berjalan dan memasuki Villa melalui pintu depan. Begitu mereka melangkahkan kaki ke Ruang Pertemuan, T.K. menyambut mereka dengan hangat.

“Wah, pasangan nomor satu sudah datang. Silakan, silakan duduk, Raja dan Ratu Destiny.”

Hikari hanya tertawa kecil saja mendengar perkataan T.K., walaupun dia terlalu kaku untuk menyembunyikan rasa senangnya. Benar, Hikari dan Kai seperti pasangan kerajaan yang paling serasi. Rina mencoba mengabaikan kejadian di Ruang Pertemuan itu, tapi entah mengapa hatinya merasakan suatu kejanggalan yang tidak biasa. Perasaan apa ini? tanya Rina di dalam hatinya.

“Kau terlalu berlebihan, T.K. Kami tak seperti itu,” kata Hikari seraya melihat Casey yang masih terlihat murung, “Ada apa, Cass?”

Casey tidak menjawab satu patah kata pun. Hikari merasa sedikit terkejut dan mencoba bertanya kepada Olivier.

“Dia putus dengan James semalam,” jawab Olivier setengah berbisik, “Sejak tadi dia sudah murung. Kami tidak berani bicara padanya. Sebaiknya kau saja yang mencoba menghiburnya.”

Hikari mendekati Casey dan mulai mencoba berbicara dengannya. Kelihatannya dia sedang mencoba menghiburnya, tapi bukan itu yang seharusnya dia lakukan, kata Rina dalam hati. Dari kejauhan dia terus mengamati semua hal yang sedang berlangsung di Ruang Pertemuan dan membiarkan mereka menyelesaikannya sendiri.

Rei memasuki Ruang Pertemuan dengan wajah berseri-seri sambil membawa minuman pesanan Rina. Dengan riang dia berkata,

“Ini pesanannya, my Queeny. Apa ada yang lain?”

“Tidak, terima kasih banyak. Ini sudah cukup.”

“Jika ada yang mau my Lovey Dovey Queeny pesan, panggil saja. Pasti akan kubuatkan secepat kilat.”

“Iya, aku tahu. Xie xie, Gege.”

Bu ke qi, my darl.”

“Cih, menjijikan.” Casey tiba-tiba bersuara. Semua yang berada di Ruang Pertemuan pun terkejut mendengarnya.

“Hei, apa maksudmu?” Rei merasa tidak senang dengan komentar Casey.

“Sikapmu itu berlebihan. Membuat orang jijik.”

“Casey.” Hikari mencoba menengahi.

“Hei, tak usah ikut campur urusanku. Urus saja dirimu sendiri dan masalah tak pentingmu itu.”

“Apa?” Casey langsung berdiri dari bangkunya dengan tampang sangar.

“Iya. Cuma gara-gara kau putus saja, seluruh anggota Destiny jadi kelabakan. Kau tak sadar, ya kalau kau itu menyusahkan orang banyak? Orang yang tak mengerti apa-apa seperti dirimu itu tidak berhak untuk berkomentar atas apa yang aku lakukan. Dasar gadis garang menyebalkan.”

“Oh, jadi kau mau mengajakku bertengkar, ya?” Casey mendekati Rei dengan sikap marah dan muka merah padam sambil menyingsingkan lengan bajunya. Rei sendiri sudah bersiap-siap menerima tantangan untuk berkelahi dengan Casey. Tapi untungnya semua anggota Destiny segera turun tangan melihat kejadian itu dan menahan mereka berdua untuk berkelahi disana. Perkelahian itu pun dapat terelakkan.

“Kalian ini.” T.K., yang merupakan ketua Destiny, mencoba menengahi. “Kalian itu bukan anak-anak lagi. Bertengkar hanya karena masalah sepele. Casey, kau jangan cepat emosi hanya karena melihat sesuatu yang tidak kau sukai. Rei juga, jangan cepat terpengaruh oleh omongan orang. Kalau memang ada masalah, selesaikanlah dengan kepala dingin. Suasana panas malah memancing keributan.”

Emosi Casey dan Rei pun mulai mereda setelah mendengar perkataan T.K. Mereka sudah bisa menguasai diri mereka masing-masing. Anggota Destiny yang lain pun merasa lega karena hal itu. Saat itulah, Rina baru berani mendekati Rei dan bicara dengan seluruh anggota Destiny.

“Atas nama Rei-ge dan saya sendiri, saya memohon maaf atas kejadian ini. Saya merasa ikut bertangggung jawab.”

“Tidak apa-apa, Rina-chan. Ini bukan salahmu.” Hikari berkata dengan lembut.

“Terima kasih, T.K. senpai. Dan jika boleh, saya ingin bicara dengan Rei-ge.”

“Oh, silakan saja.” T.K. berbaik hati memberi izin kepada Rina.

“Terima kasih. Permisi.” Rina memohon pamit seraya menarik Rei untuk ikut bersamanya ke loteng, sementara anggota Destiny yang lain kembali duduk di kursi masing-masing untuk menenangkan suasana.

Gege harusnya tidak bersikap seperti itu,” kata Rina menasihati setelah mereka berdua telah berada di kamar Rina.

“Iya, maaf. Itu memang salahku. Tapi Casey itu benar-benar menjengkelkan. Aku tak tahan.”

“Tapi saat suasana sedang tidak kondusif seperti ini, harusnya Gege bisa menahan diri, menahan emosi Gege.”

“Iya, aku akan berusaha.”

Mereka pun terdiam sejenak sebelum Rei melanjutkan,

“Aku tak suka dia bicara tentang kelakuanku. Ini memang sudah jadi kebiasaan kalau aku benar-benar memperhatikan Rina-chan. Aku sadar kalau memang sikapku tampak terlalu berlebihan bagi siapapun. Tapi aku hanya ingin menunjukkan kalau aku benar-benar sayang pada Rina-chan. Karena itu aku benci sekali dengan perkataannya itu. Seolah-olah apa yang kulakukan itu adalah sesuatu yang salah.”

Rei mengatakan hal itu dengan muka memelas, seperti hampir akan menangis. Rina jadi merasa iba melihatnya. Dengan perlahan-lahan, dia memeluk Rei sambil berkata,

“Iya, aku tahu kalau Gege sangat menyayangiku. Tidak perlu pikirkan apa yang orang-orang katakan. Yang penting Gege tetap menyayangiku. Itu saja sudah cukup.”

☼     ☼     ☼

Dua hari telah berlalu sejak pertengkaran Casey dan Rei di Ruang Pertemuan Villa terjadi. Hampir semua anggota Destiny telah melupakan hal itu. Tapi tetap saja hubungan pertemanan Casey dan Rei sedikit merenggang sejak pertengkaran itu. Mereka bahkan tidak mau saling bicara ataupun hanya bertegur sapa. T.K. dan Hikari sudah mencoba mengingatkan mereka, tapi mereka tetap saja tidak mau berbaikan.

“Ah, biarkan saja mereka berdua. Nanti juga akan berbaikan sendiri,” komentar Ken saat sedang berkumpul dengan T.K. dan Max.

“Ya, tapi apa kita akan terus membiarkan hal ini berlarut-larut?” T.K merasa ragu.

“Tak juga harus seperti itu. Tapi sifat Casey itu memang agak aneh. Aku dulu pernah bertengkar dengannya, tapi kubiarkan saja. Akhirnya kami berteman lagi tanpa mengingat pertengkaran kami yang lalu,” tanggap Max.

“Kalian sedang membicarakan apa?” Tiba-tiba Kai lewat di depan mereka. Dia kelihatannya baru dari perpustakaan, karena dia sedang membawa lima buah buku pelajaran yang tidak terbayangkan tebalnya.

“Oh, Kai. Tidak, kami sedang membicarakan masalah Casey dan Rei,” jawab Ken.

“Oh, masalah itu.” Kai seakan tidak terlalu mempedulikannya. “Kalau menurutku …”

“Menurutmu?” tanya mereka serempak.

“Sebaiknya kita tidak usah terlalu ikut campur dalam menyelesaikan masalah mereka itu. Biarkan saja. Toh tidak akan ada gunanya. Mereka berdua sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah untuk meminta maaf. Jadi percuma saja kalau kita membantu. Hal ini hanya akan selesai bila mereka meninggalkan ego mereka masing-masing. Jadi untuk saat ini, biarkan saja mereka dulu.”

Kai pun berlalu dengan cepat. Mereka bertiga memikirkan apa yang dikatakan Kai hingga bayangan Kai menghilang dari pandangan.

☼     ☼     ☼

Anggota Destiny sedang berkaraoke ria di Ruang Audio Visual Villa di lantai 2. Lagu-lagu yang mereka nyanyikan seakan menghilangkan kepenatan mereka setelah lelah berakitivitas seharian. Casey pun merasa sangat terhibur, sejenak membuatnya melupakan segala permasalahan yang melanda hidupnya. Dia sedikit menunjukkan senyumnya, walaupun hanya senyuman tipis.

Kai tidak mengikuti acara hiburan itu. Dia tidak tertarik dengan keramaian dan kebisingan di dalam ruang karaoke itu. Dia hanya duduk di Ruang Pertemuan yang sepi tanpa melakukan apa-apa. Kai ingin melakukan sesuatu, tapi dia tidak yakin apa itu. Mendadak dia beranjak dari kursinya dan berjalan. Entah apa yang mendorongnya melangkahkan kaki ke loteng sayap kiri. Bahkan dia sendiri tidak menyadari dirinya telah mengetuk pintunya tiga kali. Dia seakan baru terbangun dari mimpi saat Rina sudah membukakan pintu itu.

“Ya?” Rina sedikit terkejut melihat Kai berada di depan pintu ruangannya. Kai sama sekali tidak bisa menjawab. Dia terlihat begitu gugup. Oleh karena itu, Rina segera mempersilakannya masuk.

Senpai mau minum sesuatu?” tanya Rina setelah Kai duduk di kursi tamu.

“Tidak.” Kai berseru dengan sikap yang semakin gugup. Rina sampai merasa kaget mendengarnya.

“Maaf,… maksudku … kau tidak perlu … menyiapkan apa-apa.”

“Ya, sudah. Tidak apa-apa.” Rina mencoba bersikap biasa. Dia pun duduk di sebelah Kai.

“Ada apa?”

“Hah? Aku … aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja aku sudah di depan pintu kamarmu. Aku tidak … menyadarinya.”

Senpai tidak ikut berkaraoke bersama Destiny?”

“Tidak. Aku tidak suka. Memusingkan kepala saja.”

“Oh, begitu.”

Mereka terdiam sejenak.

“Jadi, … ada yang mau senpai ceritakan padaku?” tanya Rina pelan-pelan. Kai tidak langsung menjawabnya, karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sendiri merasa kebingungan.

“Ehm … aku … tidak tahu harus mulai dari mana. Aku … sedikit bingung.”

“Mulailah dengan apa yang senpai pikirkan atau rasakan saat ini.”

“Aku merasa … ada yang tidak wajar.”

Rina mendekatkan wajahnya, tidak mengerti dengan yang baru saja Kai katakan.

“Hubunganku dengan Hikari terlihat baik-baik saja. Kami tidak pernah bertengkar, tidak pernah ada masalah dan keadaan hubungan kami masih cukup normal. Tapi ada sesuatu yang … aneh di dalam hatiku, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Aku tidak bisa menjelaskan hal itu, karena rasanya seperti sangat abstrak bagiku. Tapi ‘sesuatu’ ini membuat hubunganku dengan Hikari terasa aneh.”

“Aneh … bagaimana?”

“Saat kami bersama, kami terlihat sangat mesra. Tapi di saat yang bersamaan, aku merasa ada ‘sesuatu’ yang menghalangi kami. Seperti ada sebuah dinding tak kasat mata yang membuatku tidak bisa lebih dekat dengannya. Sesuatu yang … yah, tidak dapat kutembus.”

“Sebuah … perasaan, barangkali?”

“Mungkin, walaupun aku tidak bisa menjelaskan lebih detail. Tapi perasaan apa itu? Aku tidak merasakannya di dalam hatiku. Aku merasa … Hikari yang menimbulkan perasaan itu.”

“Yah, aku tidak bisa tahu apa perasaan itu, karena perasaan itu bukan dari diri senpai. Tapi aku yakin, perasaan itu pastilah sebuah perasaan penting.”

“Bisakah kau mencari tahu?”

“Aku?”

“Ya, kau. Kau hebat dalam menilai orang, kan? Kau pasti bisa merasakannya dengan mudah.”

“Tapi aku harus bertemu langsung dengan orangnya. Aku …”

Tiba-tiba pintu diketuk tiga kali. Dari luar terdengar suara, “Ini aku, Hikari. Apa aku boleh masuk?”

Kai langsung berdiri dari tempat duduknya saking terkejutnya. Rina pun merasa sangat terkejut dan bingung. Dia tidak ingin Hikari tahu bahwa Kai menemuinya, begitu juga dengan Kai. Mereka tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman yang akan memperbesar konflik. Kai pun mencari tempat untuk bersembunyi dengan perasaan panik.

“Bersembunyilah di dalam lemariku,” kata Rina pelan-pelan. Kai pun langsung masuk ke dalam lemari itu dengan sangat terburu-buru, sementara Rina bersiap-siap membukakan pintu untuk Hikari.

“Iya, senpai. Silakan masuk,” sahut Rina setelah memastikan tak ada yang mencurigakan. Hikari pun masuk dan segera duduk di kursi di dekat jendela.

“Ada apa Hikari senpai tiba-tiba datang ke tempatku?” tanya Rina seraya duduk di pinggiran jendela.

“Ehm … sebenarnya aku ingin berkonsultasi denganmu, Rina-chan. Kau … tidak sedang sibuk, kan?”

“Tidak terlalu. Aku masih punya banyak waktu luang. Apa yang ingin senpai bicarakan denganku? Masalah cinta?”

“Ya, seperti itulah kira-kira.” Hikari menjawab dengan muka yang memerah.

“Apa … senpai sedang ada masalah dengan … Kai senpai?”

“Bukan dia. Tapi hatiku ini.”

Rina menunggu sampai Hikari berkata lebih lanjut,

“Aku … bingung harus mulai darimana.”

Kalimat itu selalu muncul setiap seseorang berkonsultasi dengan Rina. Kadang-kadang Rina berharap ada yang mengucapkan kalimat selain daripada itu. Rina pun hanya menghela napas panjang.

“Baiklah. Senpai bisa mulai dengan kata-kata ‘aku merasa …’.”

“Aku merasa sangat bersalah dengan Kai.”

“Ber … salah?”

“Iya. Aku rasa … aku telah mengkhianatinya.”

Rina merasa sangat terkejut dengan pernyataan itu. Begitu pula dengan Kai yang masih bersembunyi di dalam lemari pakaian Rina dan mencuri dengar diam-diam. Tak terbayangkan perasaan Kai saat Hikari mengatakan hal itu.

“Apa yang senpai lakukan?”

“Kau ingat aku pergi ke Italia di waktu liburan yang lalu? Disana aku bertemu dengan seorang pria. Dia orang Jepang, pemain sepakbola pro di salah satu klub disana. Tadinya kami hanya berteman karena menyukai dunia yang sama, tapi hati kami berkata lain.”

“Apa senpai … jatuh cinta … padanya?” Rina bertanya dengan sangat hati-hati.

“Kelihatannya iya, karena aku merasa sangat bahagia saat aku bersamanya. Walaupun sekarang kami hanya berkomunikasi lewat telepon.”

“Lalu … Kai senpai?”

“Dia tidak tahu. Aku tidak pernah bercerita padanya. Aku takut dia akan salah paham. Karena itu, Rina-chan, aku ingin meminta saran darimu. Aku benar-benar dalam kebimbangan sekarang.”

Jadi hal ini yang dirasakan oleh Kai, kata Rina dalam hati. Cinta Hikari terhadapnya mulai pudar, karena itu Kai merasa ada “penghalang” di antara mereka.

Kai pun berpikir hampir serupa dengan yang dipikirkan oleh Rina. Hikari jatuh cinta dengan pria lain, pikirnya. Ternyata itulah yang kurasakan dari sikap Hikari yang mulai berubah. Aku memang benar-benar bodoh sampai-sampai aku tidak bisa mengetahuinya.

“Apa senpai yakin jika benar-benar mencintai pria itu? Karena mungkin saja kalau senpai hanya merasa nyaman saat bersamanya. Itu juga bisa menjadi salah satu kemungkinan.”

“Aku sendiri tidak yakin kalau aku mencintainya ataukah itu hanya sekedar tergila-gila saja. Karena itu aku belum berani memutuskan apa-apa. Saat dia menyatakan cinta padaku, aku …”

“Menyatakan cinta?” potong Rina cepat. “Dia sudah menyatakan cintanya pada senpai? Kapan?”

“Setengah bulan yang lalu. Dia memang bilang bahwa dia mencintaiku, dan tidak akan memaksaku untuk menjadi pacarnya. Dia sendiri sudah tahu bahwa aku masih berpacaran dengan Kai.”

“Lalu apa jawaban senpai?”

“Tidak ada. Jadi dia hanya memintaku mempertimbangkan perasaannya saja.”

“Permasalahan senpai menjadi semakin rumit.”

“Benar. Aku semakin bingung jadinya.”

Rina berpikir sebentar, mencari solusi terbaik untuk Hikari. Beberapa saat kemudian, barulah dia berkata,

“Kalau menurutku, senpai sebaiknya bertahan untuk beberapa waktu. Anggap saja dua bulan. Coba jalani dulu hubungan Hikari senpai dengan Kai senpai seperti biasa. Kalau senpai masih merasa nyaman bersamanya, senpai harus mempertahankan hubungan ini dan meninggalkan pria itu. Tapi kalau senpai benar-benar tidak merasa nyaman lagi dan merasa lebih bahagia dengan pria itu, maka tinggalkanlah semua dan mulailah dengan hubungan senpai yang baru.”

“Apa akan berhasil?”

“Aku yakin … 90%.”

“10% nya?”

“Sangat meragukan.”

Hikari memikirkan saran Rina itu beberapa menit. Apa ini jalan terbaik yang harus kutempuh? tanya Hikari dalam hati. Oh, Kenichi. Maafkan aku. Apa yang dikatakan Rina ada benarnya. Aku tidak boleh terburu-buru. Maaf aku harus membuatmu menunggu lebih lama dari perkiraanku.

“Yah, perkataanmu memang benar. Aku harus bersabar, tidak boleh buru-buru. Terima kasih, ya Rina-chan. Kau sudah banyak membantuku kali ini.”

“Sama-sama, senpai.”

“Kalau begitu, aku pergi dulu, ya.”

“Iya, Hikari senpai.”

Hikari pergi dari kamar Rina dengan wajah yang lebih ceria. Kai pun keluar dari tempat persembunyiannya saat Rina telah menutup pintu. Wajahnya pucat. Jelas terlihat bahwa dia sedikit shock mendengar pengakuan Hikari tadi. Rina cepat-cepat menghampirinya dan bertanya,

“Apa senpai tidak apa-apa?”

Kai menatap mata Rina lekat-lekat. Dia terlihat kaku, seperti kehilangan kesadaran.

“Aku … ini …”

Tubuh Kai melayang dan hampir jatuh tersungkur. Untung saja Rina menangkapnya dengan gerakan cepat dan memeluk Kai dengan erat. Di dalam pelukan itu, Kai baru berkata, “Semua ini salahku.”

“Ini bukan salah senpai.”

“Aku yang membiarkan semua keadaan ini terjadi. Aku yang salah.”

“Sudah kubilang ini bukan salah senpai.” Rina memeluk Kai lebih erat. “Ini adalah takdir, jalan yang memang harus kalian lalui. Ini bukan salah senpai. Kai Senpai tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri atas kesalahan yang tidak kau lakukan.”

Kai mendengarkan tiap kata yang Rina ucapkan dengan seksama. Dia pun tersenyum sambil berkata, “Arigatoo-na.”

Rina ikut tersenyum mendengar ucapan terima kasih itu. Dia merasa senang bisa memberi Kai semangat. Pelan-pelan dia melepaskan pelukannya, sehingga dia bisa berbicara pada Kai dengan lebih leluasa.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku belum tahu. Aku belum memikirkan apa yang kulakukan.”

“Boleh … aku memberi saran?”

“Ya, tentu saja.”

“Berikan kesempatan kepada Hikari senpai. Aku bisa merasakan bahwa dia masih sangat mencintaimu. Seperti yang telah kusarankan kepadanya, cobalah untuk mempertahankan hubungan kalian. Bila masih dapat dipertahankan, hal itu akan lebih baik. Bila memang tidak dapat lagi dipertahankan, maka lepaskanlah. Aku rasa itu akan lebih baik.”

“Aku tidak ingin menahannya lebih lama,” kata Kai tegas.

Rina mengernyitkan dahi, tidak mengerti.

“Aku tidak ingin mempertahankan hubungan ini, dan aku tidak ingin menahan Hikari dalam mendapatkan kebahagiaannya. Sudah cukup lama dia berbuat dan menderita untukku. Sekarang saatnya aku membalas budi.”

“Aku … masih belum mengerti.”

“Hikari yang membantuku masuk ke Japan Western High, dengan meminta bantuan Kiara Ayana Michael, si pemilik 20% saham Western. Dia yang telah berjuang keras agar aku bisa mendapat kehidupan yang lebih baik di Jepang ini. Dia juga memohon kepada White agar aku bisa bekerja paruh waktu di Villa. Hikari sudah terlalu banyak membantuku, sampai-sampai aku tidak tahu lagi bagaimana harus membalas jasanya.”

“Jadi karena alasan itukah kau berpacaran dengannya? Sebagai ungkapan terima kasih?”

“Sebagian besar itulah alasanku menerima cintanya. Selain daripada itu, dia memang gadis yang baik dan aku tidak punya alasan untuk menolaknya.”

“Jadi sekarang, kau …”

“Iya. Aku akan melepaskannya. Bukan karena dia jatuh cinta pada pria lain ataupun karena aku sudah tidak mencintainya lagi. Tapi aku melepaskannya karena aku benar-benar menyayangi dirinya, dan aku ingin dia mendapat kebahagiaan yang memang pantas dia dapatkan.”

“Kau yakin … dengan keputusanmu?”

“Tidak terlalu. Tapi aku tetap akan melaksanakan niatku itu.”

“Baiklah, jika itu memang keputusanmu. Aku setuju saja,” kata Rina ragu-ragu.

“Terima kasih, Rina-san. Kau sudah banyak membantuku hari ini.”

“Jangan sungkan. Aku akan selalu siap menolong orang yang sedang mendapat kesulitan.”

Kai memeluk Rina sebagai ungkapan terima kasih. Tapi entah mengapa, jantung Rina berdetak lebih kencang saat itu.

☼     ☼     ☼

Selain Hikari yang melarikan diri dari Ruang Karaoke, Casey juga keluar setelah puas menyanyikan 5 buah lagu sekaligus. Dia beralasan ingin mencari minum karena haus, tetapi dia malah mengarahkan kakinya ke pantai. Langkahnya terhenti pada sebuah batu karang besar di tepian pantai Villa yang telah menjadi tempat keramat sebagai tempat merenungkan diri bagi orang-orang yang sedang dilanda masalah. Ya, Casey ingin merenungkan semua masalah yang datang di dalam hidupnya. Sendirian, tanpa gangguan.

Di balik batu karang itu, Casey menatap laut dengan riak ombak yang menenangkan. Saat James mengakhiri hubungan mereka, pernah terpikir olehnya untuk tenggelam di laut saja. Rasanya tidak ada gunanya lagi dia ada di dunia ini bila tidak bersama James. Tapi untungnya dia tidak senekat itu.

Pikiran Casey pun mulai melayang ke masa-masa yang indah bersama James. Mereka adalah teman sepermainan sewaktu kecil, dan telah saling menyukai sejak saat itu. Saat mereka memutuskan untuk menjalin hubungan, orang tua mereka berdua pun telah menyetujui. Tidak ada halangan apapun yang bisa memisahkan mereka. Hubungan itu berjalan mesra, walaupun akhirnya mereka terpisah jarak yang sangat jauh saat Casey memutuskan untuk bersekolah di Japan Western High dan James tetap bersekolah di British Western High. Tapi entah mengapa, akhirnya James memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Padahal hubungan mereka baik-baik saja dan tidak pernah ada pertengkaran. Tapi mengapa, mengapa, dan mengapa? Hanya itu pertanyaan yang selalu muncul di benaknya setiap kali memikirkan permasalahannya.

Rei sangat terkejut melihat Casey yang sedang duduk di balik batu karang itu. Casey pun merasakan hal yang sama saat melihat Rei.

“Sedang apa kau disini?” tanya Rei tak suka.

“Aku sedang merenung. Kau sendiri untuk apa kesini?”

“Aku mencari Kai, karena dia tak ada dimanapun. Untuk apa kau merenung disini? Dan mengapa rasanya semua orang suka sekali merenung disini?” Rei merasa pusing sendiri.

“Apa itu salah? Kau tak suka aku merenung disini?” bentak Cassie.

“Kau ini. Mengapa selalu saja ingin mengajak orang bertengkar? Kau itu selalu saja membuat orang kesal.”

“Kau sendiri suka mencampuri urusan orang lain. Urusi saja urusanmu sendiri.”

“Untuk apa aku mencampuri urusanmu dengan si James bodoh itu?”

Dada Casey terasa sesak saat mendengar nama James disebut. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, dan dia tidak mampu berkata apa-apa. Casey pun memalingkan wajahnya yang memerah karena menahan tangis.

Rei yang melihat mata itu mulai merasa kasihan dan dengan sikap bingung bertanya kepada Casey, “Kau … ada apa?”

“Bukan urusanmu.” Casey mengatakan hal itu dengan air mata yang mengalir di pipinya.

Rei tidak tega melihat Casey yang menangis di tengah deburan ombak yang terus menerjang pantai Villa yang begitu putih bersih. Kakinya seakan terkunci dan tak ingin pergi dari tempat itu. Casey terus berbicara di antara isak dan tangis.

“Kau senang bukan, melihat aku menderita? Aku putus dengan James, dan sekarang aku benar-benar kacau. Kau pasti tertawa dalam hati melihatku sekarang. Aku tahu kau memang benci padaku. Dari dulu juga begitu.”

“Aku … tidak …”

Kaki Rei menjadi gontai dan lututnya terasa lemas sekali. Dia terduduk di dekat Casey yang terus menangis dengan sikap bingung. Rei tidak pernah bisa menghibur orang, tapi dia ingin sekali menghibur Casey yang tengah kesakitan saat itu.

“Maaf. Aku benar-benar tak tahu kalau …”

Casey menatap Rei dengan mata sembab. Mata itu membuat Rei semakin ingin menghiburnya, memeluk agar tangisan Casey mereda. Mata yang membuat orang menjadi iba. Perlahan-lahan namun dengan sedikit ketakutan, tangan Rei menggapai lengkungan mata Casey dan menghapus air mata yang membasahi pipinya.

“Seharusnya kau tidak menangis.” Rei mengatakan hal itu tanpa pikir panjang. “Kalau kau menangis, si James bodoh itu akan makin senang, karena kau terus merasa kesakitan karena dirinya. Kau seharusnya menunjukkan ketegaran, supaya dia sadar kalau kau tidak akan jatuh hanya karena pria brengsek macam dia. Kau harus tunjukkan padanya kalau kau adalah gadis paling kuat, karena kau tidak akan bisa disakiti oleh pria manapun di dunia ini, selalu bisa bertahan menghadapi semuanya.”

Casey merasa belum paham dengan perkataan Rei. Wajahnya tampak bingung, seakan tak percaya. Rei pun meninggalkannya sendirian, meninggalkan sebuah perasaan hangat di dalam hati Casey.

☼     ☼     ☼

Sebuah kabar menggemparkan seluruh Japan Western High di pagi hari yang cerah itu. Hikari Yagami, model top dan kapten tim sepakbola Amigo, telah memutuskan hubungan dengan Kai Hiwatari, cucu pengusaha besi dan baja nomor satu di Rusia sekaligus ketua gang paling terkenal seantero Jepang, Shell Killer. Kabar itu bukan hanya membawa kegemparan di antara murid-murid, tapi juga membuat para guru terheran-heran. Karena merupakan pasangan paling harmonis di Japan Western High, semua orang menjadi sulit percaya bahwa Hikari dan Kai benar-benar putus.

Rina mendengar kabar itu dari Cody, sahabat karib yang lain, yang tentunya datang lebih awal ke sekolah. Rina tak mampu berkata apa-apa saat mendengarnya. Dia terlalu bingung, tak siap menerima kejutan besar di pagi hari seperti ini. Jadi, kau benar-benar melakukannya, Kai senpai? tanya Rina dalam hati. Bagaimana kau tega melakukan ini semua pada Hikari-san?

“Apa … kau tahu sesuatu, Na-chan?” tanya Cody penasaran. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Rina dibalik wajah kosongnya itu.

Rina hanya menggelengkan kepala perlahan sambil menjawab tidak tahu. Dia mencoba mengabaikan perasaan galaunya. Tapi dia tidak bisa menahannya begitu lama. Saat Coffee Break, Rina segera menemui Hikari, yang saat itu sedang berada di kantin.

“Apa benar kalian …?” tanya Rina setelah duduk berdua dengan Hikari. Hikari menjawabnya dengan sebuah anggukan pelan.

“Mengapa senpai tidak membela diri?”

“Karena kupikir yang dikatakan Kai itu memang benar adanya.”

“Apa yang dia katakan? Dia mengatakan apa?”

“Dia bilang, ‘Aku tidak ingin menahanmu lebih lama, Hikari. Aku menyayangimu, dan aku tidak ingin menahan kebahagiaanmu. Aku tahu kau mencintaiku, tapi kau tetap harus merasakan kebahagiaan. Karena itu, pergilah. Supaya kau merasa bahagia.’ Hanya itu yang dia katakan kepadaku. Tapi aku merasa lega, karena dia yang mengatakan itu kepadaku. Dia mengatakannya tanpa perasaan marah atau cemburu.”

“Dia … mengatakan hal itu?” Rina merasa sangat terkejut.

“Kau terkejut, kan? Aku pun merasa begitu. Tapi Kai sudah merelakanku. Kami putus dengan keikhlasan masing-masing.”

Senpai tahu betapa terkejutnya seluruh sekolah mendengar kabar ini?”

“Aku tahu. Tapi aku rasa dalam waktu singkat mereka pasti bisa menerimanya, dan kemudian semuanya akan beres kembali.”

“Apa senpai … merasa baik-baik saja?”

“Tidak pernah lebih baik dari ini. Tenang saja, Rina-chan. Kami tidak apa-apa.”

Percakapan itu berakhir begitu saja, dan tetap saja meninggalkan perasaan tak menentu di dalam hati Rina. Aku harus menemui Kai senpai, tekad Rina dalam hati.

☼     ☼     ☼

Kai masih terus mencari buku-buku yang dia perlukan untuk presentasi pelajaran Fisika besok. Rasanya lima buku yang telah dia temukan belum mampu menghilangkan rasa cemasnya setiap dia akan memulai suatu presentasi. Entah apalagi yang seharusnya dia persiapkan.

Dari arah pintu masuk perpustakaan yang selalu tertutup, Kai mendengar suara langkah kaki dan suara seseorang yang memutar knop pintu. Siapa yang datang? tanya Kai dalam hati.

Rina memasuki ruang perpustakaan itu dengan perasaan gundah. Dia pun menemukan Kai berada di antara rak buku ilmu eksak. Tanpa menunggu, dia langsung menghampiri Kai yang begitu terkejut melihat kedatangannya.

“Rina-san.”

Senpai benar-benar melakukannya? Mengapa? Katakan alasannya padaku.”

“Seperti yang aku bilang kemarin, aku tidak ingin membebani Hikari lebih lama. Karena itu aku langsung memutuskan hubungan kami.”

Senpai sama sekali … tidak memikirkan apa konsekuensinya?”

“Ya, aku sudah memikirkannya.”

“Lalu?”

“Semua guncangan ini akan segera berakhir, Rina-san. Kau tidak perlu secemas itu.”

“Ya tentu. Tapi bagaimana dengan Hikari senpai?”

“Dia bisa menerimanya. Dengan sangat baik.”

“Kau tidak mengerti perasaan Hikari senpai.”

“Apa maksudmu?”

Rina memalingkan kepalanya sedikit seraya menghela napas panjang sebelum menjawab,

“Hikari senpai masih menyayangimu. Senpai pasti bisa melihatnya, kan? Dia memang tersenyum, tapi aku bisa merasakan bahwa hatinya masih sedih.”

“Tapi bagiku semua ini sudah berakhir. Aku tidak ingin bertahan. Aku hanya akan mempertahankan apa yang ada di hatiku.”

“Dan apa yang ada di hati senpai itu?”

“Bahwa aku hanya akan menyakitinya lebih dalam jika aku mencoba untuk mempertahankan hubungan kami. Dan yang lebih parah lagi, aku telah menyakiti diriku sendiri dengan semua kebohongan ini. Aku sudah memikirkan semuanya, Rina-san, dan aku yakin dengan keputusanku ini.”

Rina memandang Kai dengan perasaan iba. Tampak jelas di wajah Kai, bahwa dia merasa sangat kesakitan.

Senpai pasti sangat menderita.”

Kai membalas pandangan mata Rina dengan mata sayu, membuat Rina semakin tidak tahan untuk memeluk Kai. Pelukan yang begitu hangat itu membuat Kai merasa nyaman. Hanya Rina saja yang mampu membuatnya merasa seperti itu, dan itu membuat Kai sangat bahagia di dalam pelukan itu. Kai pun memberanikan diri untuk membalas pelukan itu dengan lebih erat, membuat perasaan mereka semakin hangat dan dalam.

“Jangan pikirkan hal ini lagi. Kami tidak apa-apa,” sahut Kai pelan.

“Iya, aku mengerti.”

To Be Continued …

From the Author ……………

Akhirnya author leenahanwoo berhasil menyelesaikan chap kedua ini dengan penuh perjuangan #plak

Well, baru chap kedua udah ada begitu banyak konflik. Huweeee, author jadi stres sendiri T___T

Tapi nggak apa sih. Ke depannya mudah-mudahan akan ada semakin banyak konflik lagi. Yeiy \^^/ author kumat sarapnya

Kalo ada yang kurang dimengerti dari cerita ini, silakan tanya langsung ke author. Supaya ga pada penasaran gitu. Tapi jangan nanyain apa isi chap selanjutnya ya, wkkkkk :DD

Akhir kata, would you mind to give any comment here?

Get Up & Go – Chapter 13

Chapter 13 - Waiting For You

Title                : [Get Up & Go] Chapter 13 – Waiting For You

Genre              : Shounen-ai, friendship, romance

Rating             : T

Length            : Chaptered with 4.010 words

Author            : leenahanwoo

Cast                : Super Junior memberdeul … Appear as the chapters being updated …

Warning         : YAOI ! DON’T LIKE DON’T READ, I’ve warn you !! Any flame are unacceptable !!!

Disclaimer      : Super Junior members belong to God and themselves … This story are mine

 

 

“Kau akan pergi.” Kyuhyun terang-terangan berkata.

“Bagaimana kau tahu?” Donghae mengernyit tak mengerti.

“Tak penting bagimu untuk tahu bagaimana aku bisa mengetahui semua ini,” ujar Kyuhyun. “Kau akan meninggalkan Hyukkie Hyung.”

Donghae tak mampu membalas pernyataan yang sudah pasti benar itu. Tapi dia juga tak ingin kalah beragumen. “Hae akan jelaskan pada Hyukkie sendiri. Dia akan mengerti.”

“Tidak perlu.” Kembali Kyuhyun membalas dengan nada sinis. “Berikan Hyukkie Hyung padaku, dan kau tidak perlu memikirkan bagaimana caramu menjelaskan semuanya. Kau pun bisa pergi sesukamu dengan tenang.”

Donghae tersentak. Ia amat terkejut dengan permintaan frontal Kyuhyun. Dia tahu bahwa Kyuhyun dan Eunhyuk sudah saling bicara sebelumnya. Tapi ia tak mengerti mengapa Kyuhyun masih meminta Eunhyuk darinya. Apa dia masih belum menyerah? pikir Donghae kalut.

“Tidak akan. Hae tidak akan menyerahkan Hyukkie padamu. Mau kau memaksaku, bahkan mengancam sekalipun. Hae tidak akan memberikan Hyukkie begitu saja.” Donghae berkata tegas.

“Kau akan segera pergi meninggalkan Korea Selatan. Mengapa kau harus mempertahankan Hyukkie Hyung lagi? Tindakanmu akan menyakitinya. Membuatnya bertahan, sementara kau tak di sisinya.”

Lagi-lagi Donghae terdiam. Perkataan Kyuhyun memang benar adanya. Tapi itu tidak menyurutkan keinginannya untuk mencegah Eunhyuk kembali kepada Kyuhyun.

“Hae memang akan pergi. Tapi Hae tidak menghilang. Hae akan tetap bersama Hyukkie, di hatinya,” sahut Donghae sambil tersenyum. “Hae mencintai Hyukkie, dan Hyukkie pun begitu. Seberapa jauh pun jarak akan memisahkan kami tidak akan berarti, karena kami saling mencintai.”

Kali ini Kyuhyun yang dibuat tak mampu berkata-kata. Bagaimana seorang yang bahkan masih belum sembuh dari cacat kejiwaannya bisa mengatakan hal seperti itu, membuat Kyuhyun cukup terkejut. Namun otak jeniusnya cepat memberikan jawaban bahwa pengobatan yang dijalankan Donghae sudah cukup banyak membawakan hasil yang positif.

“Hae belum memberitahu Hyukkie bahwa Hae akan pergi. Seharusnya Hae pergi menemui Hyukkie saat ini dan menjelaskan semuanya, tapi Kyuhyun-ssi lebih dahulu menemui Hae. Tapi itu bukan masalah. Hae yakin Hyukkie akan bisa mengerti, bahwa Hae hanya pergi selama dua tahun untuk pertukaran pelajar, dan bukannya selamanya meninggalkan Hyukkie.” Donghae menarik nafas untuk melanjutkan perkataannya. “Jadi Kyuhyun-ssi tidak perlu kuatir lagi. Kami pasti bisa menjaga perasaan kami masing-masing.”

 

###############

 

Eunhyuk keluar dari rumahnya dengan perasaan lebih ringan. Setelah semalaman berkutat dengan novelnya – yang membuatnya nampak seperti mayat hidup karena tidak sedetikpun ia memejamkan mata untuk melanjutkan novel kesepuluhnya itu –, hatinya terasa lebih baik pagi ini. Ryeowook, yang menginap untuk menemani dirinya, sedang berpamitan kepada kedua orang tua Eunhyuk dan mengucapkan terima kasih untuk sarapan. Dan segera setelahnya ia menyusul Eunhyuk ke teras rumah.

Hyung, kita berangkat bersama kan?” tanya Ryeowook meyakinkan.

“Tentu.” Eunhyuk menjawab sambil tersenyum manis. “Aku tidak ingin Han Gege memarahiku karena membiarkanmu pergi ke kampus sendirian pagi ini, setelah semua yang kau lakukan untukku tadi malam.”

Ryeowook terkekeh mendengarnya. “Senang rasanya melihat Hyung kembali menjadi seorang Lee Hyukjae yang kukenal. ”

……………

Siwon dan Kibum berdiri di dekat gerbang kampus mereka, menunggu kedatangan Eunhyuk dan Ryeowook. Hangeng menceritakan semua yang terjadi di malam sebelumnya, dan keduanya amat kuatir dengan keadaaan Eunhyuk. Walaupun Hangeng mengatakan bahwa ada Ryeowook yang menginap di rumah Eunhyuk dan menemaninya semalaman, tetap saja mereka berdua belum merasa tenang sebelum melihat Eunhyuk dengan mata kepala mereka sendiri.

“Wonnie, mengapa Hyukkie Hyung dan Wookie belum datang juga?” tanya Kibum pada Siwon. “Seharusnya mereka sudah tiba lima menit yang lalu.”

“Tenanglah, Bummie.” Siwon mengelus pucuk kepala istri tercintanya itu. “Mungkin bus yang mereka tumpangi terkena macet. Ini memang jam sibuk, bukan? Jangan kuatir. Mereka pasti akan segera tiba.”

Baru saja Kibum ingin membalas perkataan Siwon, Hangeng telah terlebih dulu tiba dan mendatangi mereka.

“Apa mereka sudah tiba?” tanya Hangeng tanpa basa-basi.

Keduanya menggeleng sebagai jawaban.

“Aku sedikit menyesal karena tidak bisa memaksa Wookie dan Hyukkie untuk berangkat bersamaku,” ujar Hangeng dengan rasa sesal melingkupi hatinya. “Maaf karena membuat kalian semakin kuatir.”

“Jangan dipikirkan, Gege. Ini bukan salahmu.” Siwon memegang pundak Hangeng untuk menenangkan.

“Lagipula, seharusnya kami tidak sebegitu kuatirnya. Tapi apa mau dikata, hati kami tetap merasa resah sebelum bisa bertemu Hyukkie Hyung dan mendengar semuanya.” Kibum ikut menjelaskan.

Tak lama berselang, nampaklah dua siluet dari kejauhan. Mereka bertiga hampir saja berteriak senang, namun untung saja mereka segera menyadari bahwa kedua orang itu bukan yang mereka tunggu.

Annyeong haseyo.” Lee Sungmin menyapa dengan sopan kepada ketiganya. Yang dibalas dengan sopan pula dengan membungkukkan badan hormat.

“Dimana Hyukkie?” Sosok lain yang datang bersama Sungmin menatap mereka bertiga dengan pandangan penuh harap. “Mengapa kalian tidak bersamanya?”

“Hyukkie belum datang, Hae.” Hangeng yang menjawab pertanyaan yang terucap dari bibir Lee Donghae. “Kami pun sedang menunggunya disini.”

Hanya sebuah gumamanlah yang menjadi jawaban, dan raut kecewa yang kentara di wajah Donghae.

“Baiklah, sepertinya Hyung bisa meninggalkanmu sekarang. Teman-teman Hyukkie bisa menjagamu. Hae harus berlaku baik, dan tidak membuat masalah. Mengerti?” Sungmin berkata seraya mengelus rambut Donghae. Dan dijawab dengan anggukan pelan.

“Jangan kuatir, Sungmin-ssi. Kami akan menjaga Donghae dengan baik,” ujar Kibum.

“Terima kasih,” sahut Sungmin sambil tersenyum dan meninggalkan keempat orang itu di gerbang universitas Chung-Ang.

“Hae tidak ke kampus?” tanya Siwon, setelah Sungmin menghilang dari pandangan.

Nampak rona kemerahan menghiasi pipi Donghae saat menjawab, “Hae meminta izin untuk tidak berkuliah hari ini, karena Hae ingin bertemu Hyukkie. Secepatnya.”

……………

“Aish! Hari ini benar-benar sial!” gerutu Eunhyuk setelah menginjakkan kakinya di halter terdekat dari universitas Chung-Ang.

“Bagaimana bisa supir itu tidak mengecek bus yang ia bawa sebelum digunakan?” Ryeowook ikut menumpahkan kekesalan. “Gara-gara bus mogok itu, kita jadi terlambat lima belas menit dari yang seharusnya.”

“Semoga saja kita masih sempat pergi ke kantin untuk membeli sesuatu.” Eunhyuk melirik arloji di tangannya, dan waktu menunjukkan bahwa masih ada dua puluh menit lagi sebelum kelas dimulai. “Menunggu bus pengganti datang membuatku lapar lagi.”

Ryeowook tertawa mendengar keluhan itu. “Itu karena Hyung hanya makan sedikit pagi ini. Bukan karena menunggu bus.”

Eomma sangat tahu bahwa aku tidak suka sandwich isi salad ayam. Tapi dia sering sekali membuat menu itu untuk sarapan. Jangan salahkan aku jika perutku hanya menerima roti dan sayurnya saja.”

Ahjussi memang menyukai sandwich isi salad ayam, kan? Jadi jangan salahkan Ahjumma kalau ia sering membuatnya.”

Wajah cemberut Eunhyuk menjadi hiburan tersendiri untuk Ryeowook. Paling tidak, ia bersyukur bahwa hyung sekaligus sahabat kesayangannya itu baik-baik saja. Tiba-tiba langkah Ryeowook terhenti saat Eunhyuk berhenti mendadak dengan mata membulat. Ryeowook mengikuti arah pandang sahabatnya itu dan menemukan sosok Donghae tengah berdiri bersama ketiga sahabatnya yang lain tak jauh dari gerbang masuk.

“Hae,” lirih Eunhyuk. Bukan, ia bukannya tak siap untuk bertemu dengan sosok yang sangat ingin ia temui. Namun ia tak menyangka, bahwa Donghae menunggunya.

Ryeowook melihat Eunhyuk yang sama sekali tak beranjak, dan ia pun berinisiatif untuk menarik lengan Eunhyuk agar segera mendekati tempat Donghae berada. Sambil tersenyum ceria ia menyapa, “Pagi, yeorobun.”

“Pagi,” jawab mereka serempak, kecuali Donghae.

Ya, kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu hanya saling menatap, tanpa mengeluarkan kata-kata. Membuat orang-orang di sekeliling mereka menjadi jengah.

“Ayo, kita tinggalkan mereka,” bisik Hangeng yang mendekati Ryeowook dan menggenggam tangannya. Yang tentu saja disetujui oleh semuanya.

……………

Dan disinilah Eunhyuk dan Donghae berakhir. Setelah ditinggalkan – tanpa mereka sadari – oleh sahabat-sahabatnya, Eunhyuk pun kelabakan dan berubah linglung. Tak tahu apa yang harus ia lakukan dengan keberadaan Donghae di kampusnya ini. Dengan berbekal keyakinan bahwa Ryeowook atau siapapun akan memintakan izin untuknya kepada dosen yang mengajar mata kuliahnya pagi ini, ia pun membawa Donghae ke taman di samping gedung Fakultas Ilmu Sosial. Tempat yang mereka kunjungi saat Donghae datang ke Universitas Chung-Ang untuk pertama kalinya. Tempat dimana keduanya menyadari perasaan nyaman yang melingkupi keduanya kala mereka bersama.

“Hae membolos hari ini.” Eunhyuk berujar sembari duduk di hadapan Donghae.

“Hae ingin bertemu Hyukkie,” ungkap Donghae jujur.

Eunhyuk hanya bergumam menanggapi. Dengan sebelah tangannya, ia mengusap poni Donghae yang tampak memanjang. Surai yang begitu lembut, dan akan sangat ia rindukan nantinya.

“Hyukkie, Hae ingin memberitahu …” Donghae tak berhasil menyelesaikan kalimatnya saat ia mendapati jari telunjuk Eunhyuk dari tangannya yang bebas telah bertengger di depan bibirnya.

“Aku sudah tahu.” Eunhyuk dapat melihat dengan jelas kilat keterkejutan dari mata Donghae yang membulat. Tapi ia tak ingin bibir kecil yang menggoda untuk dikecup itu mengatakan hal yang akan memisahkan mereka.

“Bagaimana …” Donghae mendongakkan kepala dan memandang sedih kepada Eunhyuk. Namun ia mendapati bahwa pancaran mata itu lebih menyedihkan dari miliknya. Membuatnya lagi-lagi tak mampu berkata apa-apa.

“Hae tak perlu mengatakan apa-apa, karena aku sudah tahu semuanya. Tolong kesampingkan bagaimana aku bisa mengetahuinya, dan cukup dengarkan apa yang aku katakan saat ini.” Eunhyuk berkata tegas, namun lembut. Berusaha menahan liquid bening yang mulai menggenangi matanya.

“Aku sudah mengetahui semuanya. Dan aku sudah cukup memikirkannya semalaman ini. Aku tahu, ini adalah kesempatan untukmu, sekali seumur hidup. Di kemudian hari, belum tentu kesempatan emas ini akan datang kembali. Kesempatan yang akan membuatmu bahagia, dan mampu mencapai apa yang kau impikan selama ini.”

“Aku memang bukan orang tuamu. Aku bukan bagian dari keluargamu, yang punya kuasa lebih untuk menahan keinginanmu. Dan aku memang tidak ingin menahan kepergianmu. Karena seperti yang aku bilang, ini adalah kesempatan untukmu, dan bukan pada tempatnya, bila dengan egois aku melarangmu untuk menggapai impian.”

Perkataan Eunhyuk mengalir seirama dengan air mata yang membasahi pipi Donghae. Dia begitu bahagia, sekaligus sedih. Bahagia karena Eunhyuk mengerti betul keinginannya, namun sedih karena mereka harus berpisah beberapa tahun lamanya.

Eunhyuk berhenti bicara saat kedua belah tangannya mengusap aliran air mata di pipi Donghae. Dia bisa merasakan dua perasaan bertentangan yang berkecamuk di hati namja yang ia sayangi setulus hati. Namun sungguh ia tak ingin egois demi cinta. Yang ia inginkan adalah kebahagian bagi mereka berdua.

“Aku akan sangat sedih, bila kau melepaskan kesempatan ini. Tapi aku akan bahagia, bila kau bisa mendapatkan kebahagiaan dengan kepergianmu.” Eunhyuk melanjutkan. “Dan yang harus kau tahu, bahwa aku akan terus menunggumu disini. Menunggu kepulanganmu, kesuksesanmu, dan menunggu hatiku kembali ke peraduannya.”

 

###############

 

Leeteuk menatap Donghae yang tersenyum memandangnya. Dia tak menyangka bahwa terapi yang dilakukan Donghae dapat selesai sesuai jadwal, dan kemajuan yang diinginkan ternyata melampaui ekspektasi. Heechul, yang duduk bersebelahan dengannya, dapat melihat senyum puas di wajah Leeteuk.

“Baiklah, Hae. Ini adalah hari terakhir pelajaran kita.” Leeteuk berkata lembut. “Aku harap, Hae dapat hidup dengan baik di Kanada. Dan menjadi orang sukses sekembalinya dari sana.”

Donghae mengangguk senang. “Ne, Hyung. Aku berjanji, aku akan sering-sering memberi kabar kepada kalian semua. Dan aku akan segera pulang dengan membawa kesuksesan.”

“Kami akan selalu berdoa untukmu, Hae.” Heechul ikut berujar. “Dan kami berharap, Hae juga akan segera memberi kabar baik untuk kami setelah pulang ke Korea.”

“Kabar … baik?” Donghae memandang bingung pada Heechul, namun yang dipandang hanya terkekeh sambil menahan sakit karena Leeteuk menyikut perutnya dengan sengaja.

“Nah, karena ini hari terakhir kita, mengapa Hae tidak memberikan kami pelukan?”

Perkataan Leeteuk membuat Donghae tak segan-segan menerjang keduanya dan memberikan pelukan terhangat yang ia bisa. Heechul dan Leeteuk pun membalas pelukan itu dengan sama hangatnya. Tanpa menyadari bahwa seseorang memasuki ruangan dalam diam, sembari tersenyum melihat ketiga orang tersebut berpelukan ala teletubbbies.

“Oh, kau sudah datang, Eunhyuk-ssi.” Heechul yang pertama kali bersuara saat melihat Eunhyuk di muka pintu.

“Aku tidak ingin mengganggu perpisahan kalian, jadi aku menyelinap diam-diam,” ujar Eunhyuk.

“Hyukkie!” Donghae segera melepas pelukan sebelumnya, lalu berlari menerjang ke arah Eunhyuk.

“Hei, hei. Hati-hati.” Eunhyuk memperingatkan. Dia tidak ingin ketidakhati-hatian Donghae membuat namja yang dikasihinya itu terluka sebelum hari keberangkatannya.

Sementara yang dikuatirkan malah terkekeh senang melihat reaksi Eunhyuk. Tanpa menyadari bahwa kedua orang yang berada di dekat kedua sejoli itu tersenyum bahagia melihat interaksi penuh cinta itu.

“Aish. Kalian berhasil membuat kami iri. Jadi … shoo, shoo.” Heechul pura-pura mengusir Eunhyuk dan Donghae, serta mengibaskan kedua tangannya.

“Iya, iya. Kami pergi,” sahut Donghae sambil mengerucutkan bibirnya, sementara Eunhyuk terkekeh melihat wajah imut Donghae. “Sampai jumpa lagi, Teuk Hyung, Chullie Hyung.”

Setelah kedua insan itu pulang, keheningan sesaat melingkupi ruangan itu.

“Teukie-ah.”

“Hmm.”

“Apa menurutmu Donghae sudah betul-betul sembuh?”

“Jika dia terus bersama orang yang dia cintai, aku rasa kesembuhannya sudah dapat dipastikan.”

“Jadi … kita berhasil?” Heechul menoleh ke arah Leeteuk.

“Well … katakanlah bukan kita yang sepenuhnya berhasil ” Leeteuk tersenyum. “Tapi cinta kedua insan itu yang membuka perubahan besar pada diri Donghae.”

 

###############

Donghae tidak mengerti mengapa Eunhyuk tidak membawanya pulang ke rumah setelah sesi terakhir pengobatannya – yang tentu saja dianggapnya sebagai sebuah ‘kursus kepribadian biasa’ – selesai. Semuanya begitu serba mendadak, dan mengejutkan. Di luar gedung tempat praktek Leeteuk dan Heechul berada, terdapat sebuah mobil baru berwarna putih yang entah bagaimana bisa menggantikan posisi sepeda kesayangan Eunhyuk. Dan Donghae tidak mampu berkata apa-apa saat Eunhyuk mengajaknya masuk ke dalam mobil tersebut.

“Apa kau suka dengan mobil ini?” Suara Eunhyuk memecah kesunyian yang diciptakan Donghae di dalam mobil itu.

“Eh?” Donghae nampak bingung menjawabnya. Karena jujur saja, dia tidak mengerti mengapa Eunhyuk berbuat seperti ini. Tapi Eunhyuk hanya terkekeh dan mengelus pucuk kepala Donghae sayang.

“Aku sengaja melatih kembali kemampuan mengemudiku,” jelas Eunhyuk tanpa ditanya. “Dan aku meminta Appa membelikanku mobil ini. Sesuai janjinya tahun lalu.”

“Tahun lalu?”

“Ya. Saat aku berulang tahun di tahun yang lalu, Appa ingin membelikanku mobil sebagai hadiah. Tapi aku menolaknya, dengan alasan aku lebih suka memakai transportasi umum kemana-mana. Sehingga Appa tidak memberikanku apa-apa.” Eunhyuk menoleh sedikit ke arah Donghae. “Tapi kurasa saat ini aku membutuhkannya. Jadi aku meminta hadiahku kembali.”

“Tapi mengapa begitu? Hyukkie membutuhkannya untuk apa?”

“Sebentar lagi kau akan tahu.”

……………

Suara deburan air laut memecah kesunyian yang tercipta. Eunhyuk yang diam sambil menikmati minuman hangat yang ia beli di perjalanan menuju tempat yang mereka datangi, terus membiarkan matanya mengawasi Donghae yang nampaknya belum puas bermain dengan ombak.

“Hae, berhentilah bermain dan kemarilah,” sahut Eunhyuk.

“Nanti, Hyukkie. Aku masih ingin bermain.” Donghae menjawab tanpa melepaskan pandangannya dari laut lepas yang terhampar tepat di depan matanya.

Eunhyuk hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah Donghae yang begitu antusias. Dia tidak menyangka bahwa pilihannya membawa Donghae ke pantai adalah pilihan yang terbaik. Namja yang dikasihinya itu ternyata sangat menyukai laut dan pantai.

“Hae.” Eunhyuk kembali memanggil Donghae, tapi hanya dijawab dengan gelengan kuat. Membuat Eunhyuk akhirnya meninggalkan minuman hangat dan bangkit dari tempat ia duduk.

“KYAAAAA.” Donghae menjerit senang saat Eunhyuk memeluk dan memenjarakan tubuhnya di bibir pantai. Keduanya bercengkerama mesra tanpa mempedulikan bahwa orang-orang yang berada di sekitar pantai itu ikut memperhatikan tingkah menggemaskan dari keduanya.

“Kau ini, tidak pernah mau mendengarkan panggilanku,” keluh Eunhyuk. “Jika aku bilang kemarilah, berarti kau harus segera kembali ke pelukanku.”

Dan Donghae kembali menggeleng sebagai jawaban. “Aku masih ingin bermain dengan ombak, tapi Hyukkie tidak mengerti keinginanku. Hyukkie yang harus dipersalahkan dalam masalah ini.”

Mata Eunhyuk membulat sempurna saat mendengar kilahan dari bibir Donghae. “Hae, sekarang kau mulai nakal eoh.” Dengan gemas Eunhyuk menggelitik perut Donghae sampai Donghae menjerit-jerit kegelian. “Ayo, minta maaf padaku.”

“Tidak … akan … hahaha, geli Hyukkie … hahaha … hentikan.” Donghae tidak bisa menahan rasa geli dan tawanya saat Eunhyuk dengan ganas menggelitik perut dan pinggangnya.

“Tidak sebelum kau meminta maaf dan menurutiku,” sahut Eunhyuk sembari masih menggelitik Donghae.

“B-baiklah .. haha .. aku minta maaf, Hyukkie … hahaha.”

Saat Donghae mengucapkan mantranya, barulah Eunhyuk menghentikan tangannya dan menangkap tubuh Donghae yang lemas karena terlalu banyak tertawa.

“Hyukkie … jahat,” kata Donghae yang masih terengah-engah sambil mengerucutkan bibirnya.

“I’m not. Hae yang berkilah, jadi aku menghukummu,” kekeh Eunhyuk sembari mengeratkan pelukan.

“Maafkan aku, Hyukkie.” Donghae nampak menyesali perbuatannya. “Aku hanya masih ingin bermain. Hyukkie tahu sendiri bahwa aku jarang sekali mendapat kesempatan untuk mendatangi tempat ini. Jadi aku ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.”

Eunhyuk tersenyum mendengar kata-kata penyesalan itu. Dengan lembut ia mengusap pucuk kepala Donghae. “Aku tahu. Aku yang seharusnya mengerti bahwa Donghae ingin lebih lama menikmati laut dan pantai ini. Maafkan aku, Hae.”

Donghae menggeleng. “Tidak apa-apa, Hyukkie. Aku sudah cukup puas bermain tadi. Sekarang Hyukkie boleh mengambil waktuku lagi.”

Eunhyuk tertawa kecil mendengar perkataan Donghae. “Dari mana kau mendapat kata-kata seperti itu?”

“Dari novel buatan Hyukkie.” Donghae menjawab jujur. “Aku suka membaca novel Hyukkie, dan aku masih membacanya sampai sekarang. Semua novel buatan Hyukkie bagus sekali. Aku sangat menyukainya.”

“Benarkah?” Donghae mengangguk, lalu menarik tangan Eunhyuk kembali ke tengah pantai.

Dan betapa terkejutnya kedua insan itu saat menemukan sepasang sejoli lain tengah duduk di tempat yang diduduki Eunhyuk sebelumnya. Eunhyuk hanya bisa mengehela nafas pasrah saat minuman hangatnya sudah berada di tangan salah seorang dari kedua orang itu.

“Oh, kalian sudah kembali?” Zhoumi, yang menyambut kedatangan Eunhyuk dan Donghae.

“Ya, dan apa yang kalian lakukan disini?” tanya Eunhyuk sambil menatap nanar pada minuman hangatnya yang tinggal bersisa seperempat gelas.

“Bersenang-senang, tentu saja.” Kyuhyun, yang memegang gelas minuman milik Eunhyuk segera menghabiskan isi gelas itu, membuat Eunhyuk tidak bisa lebih marah lagi padanya.

Zhoumi tertawa melihat tingkah kedua orang di hadapannya. Jadi dia memutuskan untuk menghampiri Donghae. “Aku dengar Hae akan berangkat dua minggu lagi. Apa Hae siap?”

Donghae mengangguk. “Aku selalu siap, tapi sepertinya Min Hyung dan Hyukkie masih belum bisa melepasku.”

“Siapa bilang?” Eunhyuk mengelak. “Aku bahkan sudah berencana mengantarmu sendiri ke bandara nanti.”

Donghae terkekeh. “Ne, Hyukkie. Aku hanya bercanda.”

“Hae sudah selesai bermain ya?” Zhoumi menampakkan wajah pura-pura sedih. “Padahal aku belum sedetik pun menginjakkan kaki pada ombak.”

“Eh? Kalau begitu, biar aku temani ya.” Donghae melirik Eunhyuk, meminta izin. “Hyukkie, aku boleh main lagi ya? Sebentaaaar saja. Hanya menemani Mimi sebentar. Ya? Ya?”

Melihat puppy eyes seperti itu, Eunhyuk yang keras kepala pun bisa luluh seketika. “Hah, baiklah. Tapi hanya sebentar saja. Nanti Sungmin Hyung memarahiku karena membuatmu sakit sebelum keberangkatan.”

Dengan sangat bersemangat, Donghae menarik tangan Zhoumi dan kembali bermain ke pantai. Sementara Eunhyuk duduk tepat di sebelah Kyuhyun.

“Licik sekali kekasihmu itu,” adu Eunhyuk. “Dia tahu sekali bagaimana menarik Hae dariku.”

“Mi memang seperti itu. Aku saja kadang bingung dibuatnya.” Kyuhyun berkata sambil tersenyum melihat Zhoumi dan Donghae yang tengah bermain ombak berdua. “Lagipula, Donghae juga tidak keberatan bermain dengan Mi. Jadi biarkan saja.”

“Kau ini, sama sekali tidak takut Zhoumi mencoba merebut Donghae dariku atau bahkan meninggalkanmu?”

“Untuk apa aku mengkuatirkan hal yang jelas tidak mungkin terjadi? Mi hanya mencintaiku, dan dia tidak mungkin meninggalkanku,” jelas Kyuhyun percaya diri. “Harusnya Hyung yang mengkuatirkan Donghae. Terpisah beribu-ribu mil seperti itu, apa bisa menjamin Donghae masih akan setia kepadamu setelah dua tahun menghabiskan hidupnya di Kanada?”

Eunhyuk mengacak rambut Kyuhyun sambil terkekeh, sementara Kyuhyun hanya mengerang tidak terima. “Dan sejak kapan kau berani mendebatku? Sejak resmi menjalin hubungan dengan Zhoumi, kau jadi anak pembangkang ya.”

“Aku tidak membangkang, dan Zhoumi tidak mengajariku untuk menjadi anak nakal. Aku hanya mengkuatirkan hubungan kalian berdua,” gerutu Kyuhyun. “Aku … hanya tidak ingin Hyung terluka lagi. Cukup sudah aku menorehkan luka pada Hyung, dan aku tidak mau Hyung merasakan sakit lagi karena Donghae meninggalkan Hyung setelah dia ke Kanada nanti.”

Eunhyuk tersenyum mendengar penjelasan Kyuhyun. Dia amat senang mengetahui Kyuhyun sudah mulai menerima hubungannya dengan Donghae, dan bahkan mendukungnya. “Aku percaya Donghae akan selalu mencintaiku, dan tidak akan pernah meninggalkanku walaupun terlalu banyak jarak yang terbentang di antara kami. Seperti dirimu yang selalu mempercayai cinta Zhoumi. Aku pun akan melakukan hal yang sama.”

Senyum Kyuhyun makin mengembang mendengar perkataan Eunhyuk. Dia memang sengaja datang ke pantai ini hanya untuk memastikan bahwa hubungan orang yang pernah begitu dicintainya ini akan selalu bertahan. Dan sepertinya, kepastian itu sudah terpapar jelas di hadapannya.

###############

“Kau yakin bisa menyetir hingga ke bandara? Aku bisa menggantikanmu kalau kau mau.” Yesung, yang baru saja duduk di kursi penumpang di sebelah Eunhyuk sedikit merasa ngeri saat tahu bahwa Eunhyuk baru saja mulai menyetir kembali dan akan membawa Donghae, sepupu kesayangan beserta tunangannya tercinta ke Incheon dengan kemampuan seadanya.

Eunhyuk hanya terkekeh dan menggeleng. “Aku sudah berlatih membawa mobil ini ke Incheon bersama Appa selama seminggu. Aku yakin aku bisa mengantar kalian semua dengan selamat.”

Mendengar penjelasan itu, Yesung tidak berkomentar lagi. Sementara Eunhyuk melirik ke arah depan rumah Sungmin dan Donghae, dan melihat bahwa namja yang dikasihinya itu sedang berpamitan dengan para tetangga di sekitarnya. Nampaknya kedua bersaudara Lee itu cukup dekat dengan tetangganya, dan mereka sangat merasa kehilangan karena Donghae akan pergi bersekolah ke luar negeri. Tak lama kemudian, acara perpisahan kecil itu pun berakhir, dan Sungmin, Donghae beserta Henry memasuki mobil Eunhyuk untuk melanjutkan perjalanan.

“Baiklah, semua sudah siap?” Yesung memastikan semuanya sudah masuk ke dalam mobil dan tidak ada yang tertinggal.

“Yaaa.” Ketiganya menjawab serempak.

Eunhyuk hanya tersenyum senang melihat semuanya nampak bersemangat, dan mulai menjalankan mobilnya menuju bandara.

……………

Bandara Internasional Incheon nampak sangat ramai seperti biasa. Donghae cukup takjub melihat keramaian itu. Mungkin benar bahwa bertahun-tahun yang lalu ia pernah mendatangi tempat ini saat ia dan kedua orang tuanya pergi ke Amerika. Namun hal itu tidak menyurutkan rasa takjubnya itu.

“Aku sudah mengurus semua dokumen dan tiketnya,” sahut Yesung sambil berlari menuju ke arah keempat orang yang tengah menunggunya.

Donghae dan Henry menerima semuanya surat dan tiket yang diberikan Yesung pada mereka. Sementara Sungmin dan Eunhyuk hanya bisa menatap kesedihan yang terpancar dari mata keduanya.

“Kalian berdua tidak boleh nakal, mengerti? Belajarlah dengan rajin, dan jaga kesehatan kalian. Lalu pulanglah kesini sebagai orang yang terkenal. ”

Kedua orang yang dinasihati itu mengangguk mengiyakan. Dan Sungmin pun mendekati keduanya, memberikan petuah lainnya.

“Henry, Hae, aku tahu sesungguhnya kalian sudah cukup dewasa untuk hidup dan berjuang di luar jangkauan kami. Tapi jangan karena kalian telah lepas dari pengawasan kami, kalian lalu bertindak seenaknya tanpa memikirkan keselamatan kalian. Walau bagaimanapun, kalian akan tinggal di negara yang jauh berbeda dari Korea, dan kalian pun hanya akan diawasi oleh dosen pembimbing kalian disana. Jadi kalian harus lebih berhati-hati, jaga diri kalian dan tetaplah berada pada jalur yang ditentukan. Jangan membantah apapun yang dilarang oleh dosen pembimbing kalian, dan sering-seringlah menghubungi kami.”

Mendengar ceramah yang begitu panjang itu, mau tak mau Donghae dan Henry memeluk Sungmin dengan erat. Sungguh berat bagi keduanya untuk berpisah dari Sungmin, karena Sungmin-lah yang selama ini menjaga mereka selayaknya ibu.

“Kami pasti menjaga diri kami baik-baik, Hyungie,” sahut keduanya serempak.

Sungmin hanya bisa tersenyum melihat tingkah Donghae dan Henry. Sungmin memang sangat menyayangi Henry seperti ia begitu menyayangi Donghae, dan sangat sulit banginya untuk melepas kedua anak yang selama ini selalu berada di bawah pengawasannya. Namun tentu saja ia selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Donghae dan Henry. Dan bila membiarkan mereka mengikuti pertukaran mahasiswa ini bisa memberikan masa depan yang menjanjikan untuk keduanya, tentu Sungmin akan menyetujuinya.

Setelah Sungmin melepaskan pelukan Donghae dan Henry, Eunhyuk pun maju mendekati keduanya. Dia menghampiri Henry terlebih dahulu, karena ia tahu bahwa dia tidak akan mampu melepas Donghae sebelum dia menyampaikan petuahnya pada Henry.

“Henly mochi, aku tahu bahwa kekasihku ini sudah cukup dewasa untuk dibiarkan hidup sendirian. Tapi kau tahu sendiri bukan, bagaimana kalau aku sedang terlalu mengkuatirkan keadaannya?” Eunhyuk menggenggam kedua tangan Henry erat-erat, sementara Henry terus mengangguk untuk mengiyakan permintaan Eunhyuk. “Jadi aku betul-betul berharap dan bergantung padamu, untuk menjaga Donghae sebaik-baiknya, dan tidak membiarkan dia sendirian atau berbuat sesuatu tanpa pengawasan. Dan aku juga bergantung padamu sepenuhnya untuk urusan berkomunikasi dengan Donghae.”

Henry mengangguk kuat-kuat. “Tenang saja Hyung. Aku pasti akan menjaga Donghae, dan menjaga supaya komunikasi kalian tetap berjalan lancar selama kami disana.”

Eunhyuk tersenyum, lalu mengelus pucuk kepala Henry sayang.

Tibalah saatnya Eunhyuk dan Donghae saling mengucapkan selamat tinggal. Walau ini hanya perpisahan sementara, namun kebersamaan yang mereka lalui terasa terlalu singkat.

“Hae.” Eunhyuk mendekati Donghae seraya mengelus pipi halus itu. “Berjanjilah kau akan menjaga dirimu. Sebaik-baiknya. Kau tahu betul, bila terjadi sesuatu, sangat sulit bagi kami untuk segera datang ke tempatmu. Jadi pastikan kau selalu bersama Henry dan jaga dirimu. Mengerti.”

Donghae mengangguk lamat-lamat. “Aku … mengerti. Aku pasti akan pulang dengan selamat. Aku janji … aku akan kembali pada Hyukkie. Secepat yang aku bisa.”

Eunhyuk tersenyum mendengarnya. “Terima kasih.” Dan dia pun memeluk Donghae begitu erat, menyalurkan segala cinta dan semangatnya untuk mengantar yang terkasih.

Suara panggilan untuk segera boarding pun terdengar, membuat kedua insan itu terpaksa melepaskan pelukan erat itu.

“Hyukkie …” Donghae tak rela pergi dari sisi Eunhyuk sembari menahan air mata yang akan segera tumpah.

“Pergilah, Hae.” Eunhyuk membiarkan Henry menarik Donghae menjauh darinya. “Dan kembalilah secepatnya.”

Panggilan boarding kembali terdengar, dan Donghae hanya bisa pasrah saat Henry menariknya menuju gerbang keberangkatan. “Aku akan kembali, Hyukkie. Tunggu aku … kumohon.”

Suara Donghae semakin sayup terdengar di telinga Eunhyuk, karena jauhnya jarak di antara keduanya. Namun dia bisa mengerti apa yang disampaikan Donghae padanya.

“Aku akan menunggumu, Hae. Sampai kapanpun.”

……………

“Aku akan segera kembali, Hyukkie. Aku akan kembali kesisimu lagi.”

……………

 

END

 

From the Author ……………

Chap 13 update & end the story ^_^

Maaaaaaaaaaaaaaaf banget, karena author hiatus sangat lama sehingga ga bisa menyelesaikan cerita ini dengan cepat. Salahkan pekerjaan author yang silih berganti, sehingga author harus sibuk berkutat menghidupi diri author demi sesuap nasi dan sebongkah berlian alah, apa sih?

This is the end of Get Up & Go. Cerita gantung? Sengaja :p Biar readerdeul protes sama author, biar pada minta sequel, wkkk. Pokoknya author maunya akhir ceritanya begini. Jadi maaf maaf aja ya kalo ga sesuai kepengenan readerdeul. Yang penting EunHae sudah bersatu dalam suatu hubungan kan? Yah, walaupun dengan evil mode on, author ini sengaja misahin mereka setelahnya, kkkkkk

Buat nurulsaputri26, yang bela-belain PM author di FFn supaya ff nya di update, gomawo karna sudha membakar semangat author buat segera menyelesaikan ff yang ini. Kalo A Bouquet of Daffodil, belum tahu, mungkin dalam bulan-bulan inilah ff nya coba update 1 chap lagi, kkk

Baiklah. Bagi yang nungguin cerita ini ataupun ngga, silakan menikmati the end of Get Up & Go ya ^_^

So, would you mind to give any comment here?